Kotawaringin Timur

Di Tengah Asap Karhutla, Warga Kotim Memohon Hujan

46
×

Di Tengah Asap Karhutla, Warga Kotim Memohon Hujan

Sebarkan artikel ini
SALAT ISTISQA : Pemkab Kotim bersama masyarakat salat istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun di Halaman Kantor Bupati Kotawaringin Timur, Kamis (28/8/2026). FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

SAMPIT – Di tengah kemarau panjang yang membuat tanah mengering dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengepung sejumlah wilayah, ratusan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berkumpul di Halaman Kantor Bupati Kotim, Jalan Jenderal Sudirman, Sampit, Kamis (27/8/2026).

Bukan untuk sebuah perayaan, tapi bersama-sama memanjatkan doa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim menggelar salat istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan mengakhiri kemarau yang telah berlangsung cukup panjang.

Ratusan jemaah dari berbagai unsur mengikuti salat istisqa. Mulai jajaran Pemkab Kotim, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi, hingga masyarakat umum memenuhi halaman kantor bupati. Salat dipimpin Pimpinan Pondok Pesantren Assa’adat KH Ma’rufi, sekaligus menyampaikan tausiah dan memimpin doa.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar di tengah keterbatasan manusia dalam menghadapi kemarau dan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah. “Saat ini kemarau cukup panjang dan sangat panas. Kita tahu sendiri banyak sekali titik api di sekitar kota. Belum lagi di daerah selatan maupun utara. Tidak mungkin hanya dengan kemampuan manusia untuk memadamkannya,” kata Halikinnor.

Menurut dia, berbagai upaya penanganan karhutla telah dilakukan pemerintah bersama aparat dan masyarakat. Namun kondisi di lapangan menunjukkan kemampuan manusia memiliki batas. Karena itu, selain terus berupaya memadamkan api, pemerintah mengajak masyarakat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya.

Halikinnor mengajak masyarakat menjadikan kondisi kemarau panjang dan karhutla sebagai momentum introspeksi diri. “Kita sama-sama memohon ampun atas dosa-dosa kita. Mungkin ini salah satu peringatan dan ujian bagi kita agar mengingat kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus menjaga lingkungan kita lebih baik lagi,” ujarnya.

Sementara KH Ma’rufi mengingatkan, salat istisqa bukan hanya tentang meminta hujan turun. Lebih dari itu, kondisi yang terjadi harus menjadi kesempatan bagi manusia bercermin dan memperbaiki diri. Ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar dan bertobat kepada Allah SWT.

Menurut dia, manusia tidak hanya perlu berusaha “membasahi” bumi yang kering, tapi juga harus membasahi hati dengan memohon ampun kepada Allah. “Jangan-jangan kita selama ini meremehkan dosa. Sebelum kita membasahi kemarau dengan air, basahi dulu hati kita dengan istighfar,” kata KH Ma’rufi. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *