Feature

Bukan Sekadar Antibiotik, Perlu Kolaborasi Lintas Laboratorium

307
×

Bukan Sekadar Antibiotik, Perlu Kolaborasi Lintas Laboratorium

Sebarkan artikel ini
PENGHARGAAN : Boswelli Research Team foto bersama Wakil Rektor III UPR Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Wijanarka (tengah) saat menerima penghargaan 2nd Place Winner of the Best Poster Awards dan 2nd Place Winner of the Best Presenter Awards pada Seminar Kreativitas Mahasiswa #3 dan Lomba Banner X Poster yang diselenggarakan Universitas Palangka Raya, beberapa waktu lalu. FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Boswelli Research Team Teliti Potensi Doxycycline untuk Kanker Payudara

Doxycycline selama ini lebih dikenal sebagai obat antibiotik. Namun di tangan sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya (FK UPR), obat tersebut sedang dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

MELALUI Boswelli Research Team, para mahasiswa itu mencoba mengeksplorasi kembali potensi doxycycline dalam konteks penelitian kanker payudara ER+/PR+.  Bukan dengan langsung mengklaimnya sebagai obat kanker, melainkan melalui pendekatan drug repurposing atau penggunaan kembali obat yang telah dikenal untuk tujuan penelitian lain.

Eksplorasi tersebut dituangkan dalam penelitian Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 berjudul “Reposisi doxycycline melalui rekayasa nanoemulsi berbasis minyak kemenyan sebagai platform farmakologis translasional untuk optimalisasi respons terapi kanker payudara ER+/PR+.”

Bagi tim yang terdiri dari Georgia Laura Viwanda, Artha Brighita, Caysha Early Sephenova, Nissi Asima, dan Theofany Christian, penelitian ini berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana, mungkinkah obat yang sudah lama dikenal memiliki potensi lain yang dapat diteliti lebih jauh?

“Melalui penelitian ini, kami ingin mengeksplorasi kembali potensi doxycycline melalui pendekatan drug repurposing dan mengombinasikannya dengan sistem nanoemulsi berbasis minyak kemenyan,” ujar Georgia Laura Viwanda, Ketua Boswelli Research Team, Selasa (25/8/2026).

Namun perjalanan untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak berlangsung singkat.

Sebelum membuat formulasi, tim terlebih dahulu melakukan penelitian berbasis komputer untuk mempelajari kemungkinan hubungan antara senyawa yang digunakan dengan protein tertentu di dalam tubuh.

Dari tahap tersebut, tim memperoleh enam protein utama yang kemudian menjadi bagian dari dasar penelitian selanjutnya.

Langkah berikutnya, membawa penelitian dari layar komputer ke laboratorium. Di Laboratorium Biomedik I Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya, tim mengembangkan Nanoemulsi Doxycycline Frankincense Oil atau Dox FO.

Nanoemulsi merupakan sistem formulasi dengan ukuran partikel yang sangat kecil. Dalam penelitian ini, sistem tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya mengembangkan formulasi yang menggabungkan doxycycline dengan minyak kemenyan.

Minyak kemenyan dipilih karena mengandung berbagai senyawa alami yang menarik untuk diteliti.  Bagi tim, bahan alam tersebut bukan sekadar pelengkap formulasi, tetapi menjadi bagian dari pendekatan penelitian yang ingin mereka eksplorasi lebih lanjut.

Setelah formulasi dibuat, pekerjaan belum selesai. Sampel kemudian dikirim ke sejumlah laboratorium dan institusi untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik serta respons dari formulasi yang dikembangkan.

Pengujian melibatkan beberapa institusi. Seperti BRIN, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Airlangga.

Masing-masing memiliki peran berbeda. BRIN digunakan untuk pemeriksaan kandungan minyak kemenyan, Universitas Tanjungpura untuk analisis karakteristik material, Universitas Gadjah Mada untuk analisis struktur, Universitas Islam Indonesia untuk melihat ukuran partikel, serta Universitas Airlangga untuk pengujian terhadap sel.

Salah satu pemeriksaan menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukkan salah satu formulasi memiliki nilai transmitansi tertinggi sebesar 98,2 persen pada kondisi pengukuran yang dilakukan tim. Namun angka tersebut belum dapat diterjemahkan sebagai bukti bahwa formulasi tersebut efektif terhadap kanker.

Masih ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab melalui pengujian berikutnya. Untuk mengetahui bagaimana nanoemulsi memberikan respons terhadap sel, sampel telah dikirim ke Lembaga Ilmu Hayati, Teknik, dan Rekayasa (LIHTR) Universitas Airlangga untuk menjalani uji sitotoksisitas dan uji migrasi.

Karena itu, Boswelli Research Team menegaskan bahwa penelitian mereka belum sampai pada tahap membuktikan nanoemulsi Dox FO sebagai obat maupun terapi kanker payudara.

Sikap hati-hati tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian mereka. Setiap hasil yang diperoleh dipandang sebagai data yang harus dianalisis lebih lanjut, bukan sebagai kesimpulan akhir.

Tim juga masih melanjutkan penelitian molecular docking untuk memperdalam kajian mengenai kemungkinan interaksi antara senyawa dan protein yang menjadi target penelitian.

Bagi para mahasiswa, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah.

Penelitian membuat mereka harus berhadapan dengan proses formulasi, analisis, pengiriman sampel, koordinasi dengan berbagai institusi, hingga menunggu hasil pengujian.

“Penelitian ini mengajarkan kami bahwa sebuah inovasi tidak lahir dalam satu langkah. Kami harus melewati berbagai tahapan. Mulai penelitian berbasis komputer, pembuatan formulasi di laboratorium, pemeriksaan karakteristik, hingga pengujian di berbagai institusi,” kata Georgia.

Kolaborasi lintas laboratorium menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Keterbatasan fasilitas tidak menjadi akhir dari penelitian, tetapi justru mendorong tim untuk bekerja sama dengan institusi yang memiliki fasilitas dan keahlian berbeda.

Di luar laboratorium, Boswelli Research Team juga membawa penelitian mereka ke berbagai kegiatan ilmiah selama pelaksanaan PKM-RE 2026.

Dalam Seminar Kreativitas Mahasiswa #3, tim mengikuti kompetisi presentasi dan poster. Mereka berhasil meraih 2nd Place Winner of the Best Poster Awards. Sementara Georgia Laura Viwanda meraih 2nd Place Winner of the Best Presenter Awards.

Prestasi tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk belajar menerjemahkan penelitian yang kompleks menjadi informasi yang dapat dipahami orang lain.

Bagi Boswelli Research Team, keberhasilan penelitian bukan semata-mata ketika sebuah formulasi langsung menunjukkan hasil yang diharapkan.

Lebih dari itu, mereka ingin memastikan setiap tahapan menghasilkan data yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menjadi dasar bagi penelitian berikutnya.

Doxycycline yang selama ini dikenal sebagai antibiotik kini menjadi objek eksplorasi baru. Minyak kemenyan yang berasal dari bahan alam dipadukan dalam sistem nanoemulsi.

Sementara itu, serangkaian pengujian masih berjalan untuk mengetahui karakteristik dan respons formulasi tersebut terhadap sel.

Belum ada kesimpulan bahwa kombinasi tersebut dapat menjadi terapi kanker. Justru, penelitian ini masih berada dalam tahap untuk mencari tahu apakah ada dasar ilmiah yang cukup untuk melangkah lebih jauh.

“Kami berharap penelitian ini tidak berhenti pada hasil yang kami peroleh saat ini. Kami ingin setiap data yang dihasilkan dapat menjadi bagian dari proses pengembangan penelitian berikutnya,” ujar Georgia.

Dari sebuah obat yang dikenal sebagai antibiotik, para mahasiswa itu kini mengajukan pertanyaan baru di meja laboratorium.  Jawabannya mungkin belum mereka miliki. Tetapi bagi Boswelli Research Team, proses untuk mencarinya sudah menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *