DPRD Palangka Raya

Antrean BBM di Palangka Raya Harus Dilihat Proporsional

53
×

Antrean BBM di Palangka Raya Harus Dilihat Proporsional

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua I Komisi II DPRD Palangka Raya Hap Baperdu.

PALANGKA RAYA – Persoalan antrean bahan bakar minyak (BBM) di Kota Palangka Raya masih menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut dinilai perlu dilihat secara proporsional dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kondisi distribusi BBM secara nasional.

Wakil Ketua I Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya Hap Baperdu mengatakan, ketersediaan BBM untuk kebutuhan masyarakat umum saat ini masih dalam kondisi normal dan tetap dapat dilayani.

Menurut dia, persoalan antrean BBM tidak bisa hanya dilihat dari kondisi di satu daerah saja. Tapi perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas, termasuk kondisi distribusi BBM secara nasional. “Kalau kita lihat secara nasional, apa yang menjadi kebutuhan masyarakat itu masih terpenuhi. Untuk kita di kota ini, kebutuhan masyarakat biasa masih terpenuhi dan masih bisa dilayani dengan baik,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Namun Hap mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya praktik pelangsiran BBM. BBM yang diperoleh kemudian dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan dinilai turut memengaruhi kondisi di lapangan.

Ia menyebut, tingginya aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan ilegal seperti pertambangan, juga berpotensi meningkatkan kebutuhan BBM. Sebagian BBM tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas di lapangan.

Di sisi lain, penjualan BBM secara eceran di pinggir jalan juga menjadi persoalan tersendiri karena berkaitan dengan aspek perizinan dan keselamatan. Kondisi tersebut berisiko apabila tidak dikelola dengan baik. Terutama dalam mengantisipasi potensi kebakaran.

Namun Hap memahami keberadaan penjual BBM eceran juga muncul karena adanya kebutuhan masyarakat. Terutama ketika masyarakat membutuhkan BBM pada malam hari, sementara sejumlah SPBU telah tutup dan stok kendaraan mulai habis. “Kalau malam kehabisan minyak, SPBU sudah tutup, ya itu yang kemudian menjadi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak melihat persoalan antrean BBM secara proporsional. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Palangka Raya, tetapi merupakan bagian dari dinamika pemenuhan kebutuhan energi yang juga terjadi secara lebih luas. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *