PALANGKA RAYA – Pernyataan Pertamina bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) aman untuk tiga hari ke depan ternyata belum menjawab persoalan yang terjadi di lapangan. Antrean panjang Pertalite masih terjadi di sejumlah SPBU Kota Palangka Raya. Lebih jauh, Satpol PP menemukan adanya ketidaksesuaian antara jumlah BBM yang diminta SPBU dengan volume yang justru dikirim.
Kondisi ini membuat persoalan BBM tak lagi sekadar soal antrean panjang di SPBU. Pertanyaan besarnya justru mengarah ke rantai distribusi. Pihak pertamina menyebut kalau stok aman, tapi kenyataan di lapangan pasokan yang diterima SPBU tidak selalu sesuai dengan permintaan.
Pertanyaan itu mencuat setelah Kepala Satpol PP Kota Palangka Raya Berlianto turun langsung memantau sejumlah SPBU, Kamis (13/8). Dari hasil pengecekan di lapangan, ditemukan SPBU yang mengajukan permintaan Pertalite sebanyak 24 kiloliter (KL), namun hanya menerima 16 KL. Ada pula SPBU yang meminta 16 KL, tetapi hanya mendapatkan 8 KL.
“Ada permintaan dari SPBU untuk kebutuhan BBM sebanyak 24 KL, tetapi hanya diberikan 16 KL. Ada juga yang meminta 16 KL, tetapi hanya diberikan 8 KL. Sistemnya, mereka tetap melakukan deposit terlebih dahulu di sana. Untuk SPBU, itu yang akan kami minta penjelasan juga dengan teman-teman Pertamina,” ujar Berlianto.
Berlianto menegaskan, temuan itu bukan hasil rapat atau sekadar menerima laporan. Informasi diperoleh langsung ketika pihaknya saat turun ke lapangan dan melihat langsung.
“Jadi informasi di atas saya dapatkan langsung dari lapangan saat sidak ke SPBU tadi siang. Bukan dari rapat. Ada beberapa SPBU yang saya datangi,” ungkapnya.
Hal ini menjadi menarik disaat Pertamina menyebut stok BBM aman. Namun, pada saat yang sama, dilapangan pasokan BBM tidak sesuai kebutuhan yang diajukan oleh SPBU.
Persoalan tersebut kini mengarah pada mekanisme distribusi BBM dari depo menuju SPBU. Berlianto mempertanyakan apakah kendala terjadi pada proses pengiriman, keterbatasan kapasitas distribusi, atau terdapat persoalan lain dalam rantai pasok yang menyebabkan volume BBM yang diterima SPBU tidak sesuai dengan permintaan. Karena itu, pihaknya akan meminta penjelasan Pertamina terkait alur distribusi tersebut.
“Kalau memang stok aman, berarti masalahnya adalah masalah pengiriman. Yang kedua, apakah selain pengiriman itu juga ada masalah pengurangan? Apakah ada pengurangan dari depo ke SPBU? Nah, itu yang akan kita tanyakan lagi kepada teman-teman Pertamina,” katanya.
Berlianto juga menambahkan, permintaan terhadap Pertalite memang semakin besar akibat adanya pemadaman listrik. Selain itu juga, Biasanya Masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini banyak beralih ke Pertalite karena perbedaan harga.(sep)












