Feature

Perhatian Khusus di Jabiren, Hotspot Cukup Masif

93
×

Perhatian Khusus di Jabiren, Hotspot Cukup Masif

Sebarkan artikel ini
MENUJU TITIK API : Pilot Helikopter Bell 206 L3 PT Flybali Indoaviasi Captain Falah terbang menuju lokasi hutan yang berasap untuk melihat lahan yang terbakar dari udara, beberapa waktu lalu. FOTO RADAR KALTENG

Menyaksikan Langsung Karhutla di Atas Langit Kalteng

Dari udara, kerusakan itu memang tidak selalu dapat dilihat secara langsung. Namun hamparan hutan yang berubah menjadi hitam menunjukkan bahwa yang hilang bukan sekadar pepohonan, melainkan bagian dari ekosistem yang menjadi tempat berlindung dan mencari makan berbagai satwa liar.
‎
BUDHI SEPRATAMA PUTRA, PALANGKA RAYA

HELIKOPTER terus bergerak menyusuri rute patroli. Mata kru kembali tertuju ke bawah, mencari kepulan asap lain di antara hamparan hutan dan lahan terbuka.

Di tengah suara mesin yang terus berputar, setiap titik asap menjadi tanda yang harus dipastikan kondisinya.

‎Pilot Helikopter Bell 206 L3 PT Flybali Indoaviasi, Captain Falah mengatakan patroli udara pagi tersebut merupakan yang pertama dengan durasi hampir tiga jam.

Rute diarahkan ke wilayah selatan dan timur Kalteng. Mulai Pulang Pisau, Kapuas hingga kawasan pesisir pantai sebelum kembali ke Palangka Raya.

“Pada hari ini kami melaksanakan patroli pada sorti pertama dengan durasi kurang lebih hampir tiga jam. Rutenya di area timur dan selatan Kalimantan Tengah, mulai Pulang Pisau, Kapuas sampai dengan pesisir pantai, kemudian kembali lagi,” katanya saat memberikan breafing kepada beberapa awak media yang ikut patroli udara sebelum take-off.

‎Dari pantauan udara, kawasan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus. Hotspot di kawasan tersebut disebut cukup masif.

Lokasinya yang berdekatan dengan kawasan perkotaan dan jalur penerbangan membuat perkembangan karhutla di wilayah tersebut harus terus diawasi.

“Yang paling kami perhatikan dan perlu perhatian khusus yaitu di daerah Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau,” ujarnya sambil menerbangkan Helikopter Bell 206 L3.

‎‎Falah menyebut selama lebih dari dua pekan, patroli udara telah dilakukan bersamaan dengan operasi water bombing menggunakan helikopter berkapasitas besar.

Namun, sejumlah lokasi masih menyisakan bekas lahan terbakar maupun kawasan yang memiliki potensi kembali membesar.

‎Menurutnya, lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang paling banyak ditemukan terbakar.

Karakteristik gambut yang sensitif terhadap api membuat kebakaran di kawasan tersebut harus mendapat penanganan cepat, terlebih ketika musim kemarau mencapai puncaknya.

“Yang paling banyak terjadi di sini adalah lahan gambut. Jadi yang banyak terbakar adalah daerah-daerah lahan gambut,” jelasnya.

‎Selain lahan gambut, patroli juga menemukan kawasan yang berbatasan dengan hutan lindung.

Kondisi tersebut langsung dilaporkan kepada Satgas agar mendapat perhatian khusus dan api tidak menjalar ke kawasan Hutan Lindung Sebangau.

‎Patroli udara juga memprioritaskan titik hotspot yang berada dekat permukiman warga, kawasan hutan lindung dan wilayah yang mendekati kota.

Jabiren menjadi perhatian karena kebakaran di kawasan tersebut juga berpotensi mengganggu penerbangan apabila asap semakin meluas.

“Patroli ini lebih fokus pada titik hotspot yang berdekatan dengan permukiman warga, kemudian hutan lindung, dan yang mendekati kota,” katanya.

‎Selain Jabiren, kawasan Sampit juga mulai menjadi perhatian. Laporan Satgas Darat, pemantauan satelit dan informasi dari sistem Sipongi menunjukkan adanya perkembangan hotspot di wilayah tersebut.

Bahkan, asap yang mulai muncul dinilai dapat mengganggu masyarakat sehingga wilayah itu kembali menjadi sasaran patroli.

‎Patroli udara dilakukan setiap hari dengan dua sorti. Satu sorti kurang lebih tiga jam, dengan pembagian wilayah memastikan cakupan pemantauan seluas mungkin.

Untuk wilayah yang lebih jauh, patroli dibantu pesawat Cessna Caravan yang memiliki endurance penerbangan lebih panjang.

‎Falah menceritakan bahwa kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi tim patroli. Teriknya matahari harus dihadapi kru selama penerbangan.

Di sisi lain, minimnya awan pada puncak musim kemarau juga menjadi kendala bagi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Namun di satu sisi kami memang membutuhkan hujan, karena salah satu solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah karhutla adalah hujan,” tutur.

‎Setelah patroli selesai, hasil pemantauan dilaporkan kepada Satgas. Hotspot yang telah diverifikasi kemudian diteruskan secara cepat agar dapat ditindaklanjuti tim water bombing di lokasi.

‎Setelah pemadaman dilakukan, patroli kembali dilaksanakan pada hari berikutnya untuk melihat kondisi titik yang sebelumnya menjadi sasaran. Pola tersebut dilakukan berulang agar api yang telah dipadamkan tidak kembali membesar.

‎‎Tiga jam berlalu, helikopter akhirnya kembali ke Bandara Tjilik Riwut. Mesin perlahan mereda setelah berjam-jam menyisir bentang Bumi Tambun Bungai dari udara.

Namun, di balik suara mesin yang kembali senyap, kepulan asap masih terlihat menggantung di kejauhan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *