DPRD Kalimantan Tengah

‎Konrtuksi Rumah Betang Jangan Paksakan Pakai Kayu Ulin

52
×

‎Konrtuksi Rumah Betang Jangan Paksakan Pakai Kayu Ulin

Sebarkan artikel ini
‎FOTO Anggota DPRD Kalteng, Bambang Irawan FOTO: ‎BUDHI SEPRATAMA PUTRARADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Bambang Irawan menyarankan rencana pembangunan Rumah Betang terbesar di dunia ini kontruksinya jangan dipaksakan menggunakan kayu ulin.

Menurutnya pengadaan material harus mempertimbangkan kondisi lingkungan dan ketentuan kehutanan agar pembangunan tidak menimbulkan persoalan baru.

‎“Saya sangat tidak sepakat jika pembangunan Rumah Betang harus pakai kayu ulin. Kalau ada keinginan bahwa materialnya harus kayu atau apa, kita harus menyesuaikan juga dengan keadaan lingkungan,” katanya, Selasa (11/8).

‎Menurutnya, karakter Rumah Betang tetap dapat ditampilkan tanpa seluruh bagian bangunan menggunakan kayu asli. Material alternatif dengan bentuk dan tampilan yang menyerupai kayu dapat menjadi pilihan, terutama apabila memiliki kekuatan konstruksi yang baik serta lebih mudah diperoleh secara legal.

‎Ia menegaskan, pembangunan rumah adat tidak semestinya hanya berorientasi pada keaslian material. Nilai budaya dan pesan yang ingin disampaikan melalui bangunan tersebut justru menjadi bagian penting yang harus dipertahankan.

‎“Banyak material yang serupa dibuat, walaupun memang bukan material asli. Kita bukan soal material itu asli atau tidak, tetapi simbolnya yang mau kita naikkan. Falsafahnya yang mau kita angkat, tempat keragamannya yang mau kita tonjolkan,” ujar Bambang.

‎Bambang juga mengingatkan risiko apabila kayu untuk kebutuhan pembangunan harus didatangkan dari wilayah hulu. Selain persoalan pengangkutan, asal-usul kayu dan legalitas pemanfaatan hasil hutan harus dipastikan agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun lingkungan di kemudian hari.

‎

‎“Kalau material yang asli itu harus dicari dari hulu sana, kemudian dibawa ke sini, kan itu cukup berisiko,” tegasnya.

‎DPRD Kalteng mendorong agar perencanaan Rumah Betang dilakukan dengan mempertimbangkan unsur budaya, kekuatan konstruksi, legalitas material serta kelestarian lingkungan.

Penggunaan bahan alternatif dinilai dapat menjadi jalan tengah agar bangunan tetap mencerminkan identitas Dayak sekaligus aman dari persoalan pengadaan material.(sep/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *