SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih terus terjadi. Kondisi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda itu membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim berharap Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) segera digelar untuk membantu menekan dampak kebakaran.
Selain membantu proses penanganan karhutla, OMC diharapkan dapat mengurangi kabut asap yang mulai mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan pelaksanaan OMC saat ini masih dalam tahap persiapan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu proses yang dilakukan yakni meninjau potensi awan hujan yang dapat mendukung pelaksanaan operasi tersebut.
“OMC saat ini on progress dari BNPB. Sekarang lagi mereka review awan hujan. Mudah-mudahan tiga sampai empat hari ke depan sudah bisa,” kata Multazam, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, keberadaan OMC akan menjadi dukungan tambahan bagi upaya penanganan karhutla yang dilakukan di lapangan. Hujan yang dihasilkan tidak harus turun tepat di wilayah Kotim, namun curah hujan di daerah sekitar juga diharapkan mampu membantu mengurangi kabut asap. “Walaupun mungkin hujan tidak di sini, tapi paling tidak bisa menghapus kabut asap,” ujarnya.
Pelaksanaan OMC nantinya dilakukan melalui koordinasi BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer serta ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Multazam menilai dukungan tersebut semakin penting seiring meningkatnya dampak karhutla terhadap kualitas udara. Kabut asap bahkan kerap terlihat pada pagi hari di sejumlah kawasan Kotim.
Kendati demikian, BPBD Kotim memastikan penanganan karhutla tetap dilakukan secara langsung di lapangan. Tim terus melakukan pemadaman terhadap titik-titik api sekaligus berupaya mencegah api menjalar dan meluas ke wilayah lainnya.
BPBD berharap perpaduan antara pemadaman di darat, langkah pencegahan, serta dukungan OMC dapat mempercepat penanganan karhutla. Dengan demikian, dampak asap terhadap masyarakat dapat ditekan sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api baru. (pri)












