Utama

Patroli Udara Pantau Hotspot Karhutla di Kalteng, Tumbang Nusa Masih Jadi Perhatian

493
×

Patroli Udara Pantau Hotspot Karhutla di Kalteng, Tumbang Nusa Masih Jadi Perhatian

Sebarkan artikel ini
Patroli Udara Pantau Hotspot Karhutla di Kalteng, Tumbang Nusa Masih Jadi Perhatian.

PALANGKA RAYA – Patroli udara kembali dilakukan untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Pada Senin (10/8), patroli menggunakan helikopter Bell 206 L3 milik PT Flybali Indoaviasi menyisir sejumlah kawasan yang terpantau memiliki titik panas atau hotspot.

Pilot Helikopter Bell 206 L3 PT Flybali Indoaviasi, Captain Falah mengatakan patroli kali ini berlangsung hampir tiga jam. Penerbangan difokuskan pada wilayah timur dan selatan Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas hingga kawasan pesisir. “Pada hari ini kami melaksanakan patroli di sorti pertama dengan durasi kurang lebih tiga jam,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kawasan yang mendapat perhatian khusus adalah wilayah Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau. Di kawasan tersebut masih ditemukan sejumlah hotspot dan bekas lahan yang terbakar.

Patroli terhadap kawasan tersebut bahkan telah dilakukan selama lebih dari dua pekan. Selain pemantauan dari udara, upaya pemadaman melalui operasi water bombing juga telah dilakukan menggunakan helikopter berkapasitas besar. “Namun sampai dengan saat ini masih terdapat bekas lahan kebakaran maupun lahan yang masih memiliki potensi untuk menyebar,” kata Falah.

Selain wilayah Jabiren, pemantauan juga dilakukan ke arah timur hingga Kabupaten Kapuas dan kawasan pesisir. Dari hasil pemantauan udara, sejumlah titik panas masih terlihat sehingga memerlukan perhatian dan penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib mengatakan penanganan karhutla di kawasan Tumbang Nusa menghadapi tantangan tersendiri. Wilayah tersebut dinilai hampir setiap tahun mengalami kebakaran, sementara akses menuju kawasan yang terbakar cukup sulit.

Menurut Toyib, salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah pengelolaan kawasan oleh pihak swasta. Dengan adanya pengelolaan, diharapkan akses jalan, kanal, serta sumber air dapat lebih tersedia sehingga membantu upaya pencegahan dan pemadaman. “Itu harus ada keinginan dari pihak swasta yang akan berinvestasi di situ. Jadi posisi pemerintah memang menunggu,” katanya.

Namun, ia mengakui kawasan tersebut kemungkinan kurang menarik bagi investor karena dikenal sebagai wilayah yang rawan kebakaran. Hingga kini, belum ada pihak yang mengajukan pengelolaan kawasan tersebut.

Toyib menilai pemerintah daerah perlu memiliki komitmen kuat untuk melakukan langkah pencegahan. Salah satunya dengan memperbanyak kanal, melakukan pembasahan lahan sebelum musim kemarau, serta mengaktifkan sumur bor. “Pembasahan justru dilakukan sebelum memasuki musim kemarau atau pada awal musim kemarau ketika belum ada api,” jelasnya.

Ia menegaskan, anggaran untuk pencegahan harus diperkuat karena penanganan karhutla seharusnya tidak hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Menurutnya, keberhasilan pencegahan justru perlu mendapat perhatian yang sama karena dapat mencegah kerugian yang lebih besar.

Toyib juga menilai pengelolaan kawasan oleh perusahaan, jika dilakukan dengan komitmen menjaga lingkungan, berpotensi membantu pengendalian karhutla. Kanal yang terawat dan memiliki persediaan air dapat digunakan untuk menangani api sejak dini. “Kalau ada api kecil, bisa segera ditangani karena sumber airnya dekat. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lahan di sekitar mereka,” pungkasnya.(sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *