Melihat Penjualan Atribut Merah Putih Menjelang HUT RI
Warna merah dan putih mulai mendominasi sudut-sudut Kota Palangka Raya menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia tahun 2026. Di sepanjang jalan, deretan bendera, umbul-umbul, hingga berbagai atribut kemerdekaan berjajar rapi menunggu pembeli.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
SUASANA itu menjadi penanda bahwa bulan Agustus telah tiba, sekaligus menjadi musim panen bagi para pedagang musiman. Namun di balik semarak perayaan yang mulai terasa, tidak semua pedagang menikmati manisnya musim kemerdekaan.
Bagi Beben (47), pedagang atribut kemerdekaan asal Garut, Jawa Barat, Agustus tahun ini justru menghadirkan tantangan yang berbeda. Penjualan memang tetap berjalan, tapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau pembelian alhamdulillah tetap ada. Dibilang sepi juga tidak, tapi kalau dibandingkan tahun kemarin memang menurun,” ujar Beben saat ditemui di lapak jualannya di Jalan Tjilik Riwut km 1,5, Palangka Raya, Selasa (4/8/2026).
Kalimat itu keluar tanpa nada mengeluh. Wajahnya tetap ramah menyambut setiap calon pembeli yang berhenti melihat-lihat bendera berbagai ukuran yang tergantung di lapaknya.
Sesekali ia merapikan umbul-umbul yang tertiup angin, berharap ada pembeli yang membawa pulang beberapa lembar bendera.
Beben bukan pedagang musiman yang baru mencoba peruntungan. Selama tujuh tahun terakhir, ia rutin datang ke Palangka Raya setiap menjelang Agustus. Kota ini dipilih karena dianggap memiliki pasar yang cukup baik dan proses perizinan berjualan yang relatif mudah.
Setiap tahun, ia datang bersama tiga tim yang tersebar di beberapa titik strategis kota. Mereka membawa berbagai atribut kemerdekaan hasil produksi sendiri dari Garut, mulai dari bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga dekorasi perayaan dengan harga berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 400 ribu.
Seluruh persiapan dilakukan jauh sebelum Agustus tiba. Hampir sebelas bulan dalam setahun dihabiskan untuk memproduksi stok barang yang nantinya hanya dijual dalam waktu sekitar satu bulan. “Produksi sendiri di Garut. Nanti pas musim Agustus baru dibawa ke sini,” katanya.
Karena itulah, bulan Agustus menjadi penentu bagi keberlangsungan usaha mereka. Hasil penjualan selama musim kemerdekaan menjadi sumber pendapatan utama yang diharapkan mampu menopang kebutuhan keluarga. Sayangnya, harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud pada tahun ini.
Menurut Beben, penyebab utama turunnya penjualan bukan karena semakin banyak pedagang yang menjajakan produk serupa. Ia justru melihat persoalannya berada pada kondisi ekonomi masyarakat. “Peredaran uangnya yang susah. Ekonomi lagi turun, jadi orang-orang juga lebih hati-hati membelanjakan uang,” tuturnya.
Baginya, tanda-tanda itu terlihat dari kebiasaan pembeli yang kini lebih banyak bertanya daripada membeli. Ada pula yang memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dulu pembeli tidak ragu mengambil beberapa paket sekaligus, kini mereka lebih selektif.
Padahal, setiap lembar bendera yang dijual bukan sekadar barang dagangan. Di baliknya terdapat proses produksi panjang, biaya bahan baku, ongkos pengiriman dari Pulau Jawa ke Kalimantan, hingga biaya hidup selama berjualan di Palangka Raya.
Meski demikian, Beben memilih tetap bertahan. Ia memahami bahwa kondisi ekonomi sedang dirasakan banyak orang, bukan hanya pedagang.
Pendapatan yang diperoleh setiap hari pun belum mampu memberikan keuntungan besar. Pada hari sebelumnya, misalnya, omzet yang ia dapatkan hanya sekitar Rp 300 ribu. “Cukup buat makan saja. Dibilang besar tidak, kecil juga tidak. Standar,” katanya sambil tersenyum tipis.
Angka tersebut tentu jauh dari bayangan banyak orang yang menganggap musim kemerdekaan selalu identik dengan lonjakan penjualan atribut Merah Putih. Faktanya, keramaian jalan tidak selalu berbanding lurus dengan isi kantong pedagang.
Di lapaknya, bendera Merah Putih tetap menjadi barang yang paling banyak dicari. Pembeli umumnya berasal dari pengurus RT maupun warga yang bergotong royong menghias lingkungan menjelang perayaan 17 Agustus. “Biasanya yang banyak beli itu RT atau warga yang menghias kampung,” jelasnya.
Tradisi memasang bendera di rumah, kantor, sekolah, maupun lingkungan permukiman memang masih terjaga. Namun, menurut Beben, jumlah pembelian kini lebih disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Meski kondisi penjualan belum sesuai harapan, ia tidak kehilangan optimisme.
Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun, permintaan biasanya masih terus bergerak hingga mendekati Hari Kemerdekaan.
Ia berharap daya beli masyarakat perlahan membaik sehingga penjualan juga ikut meningkat. Sebab bagi pedagang musiman seperti dirinya, kesempatan berjualan hanya datang sekali dalam setahun.
Setelah Agustus berakhir, lapak akan ditutup. Ia kembali ke Garut untuk memulai siklus yang sama, memproduksi bendera, menjahit umbul-umbul, menyiapkan stok, lalu menunggu Agustus berikutnya datang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, Beben tetap percaya bahwa semangat kemerdekaan akan selalu hidup di tengah masyarakat.
Ia hanya berharap semangat itu juga diiringi dengan membaiknya kondisi ekonomi, agar setiap bendera yang berkibar bukan hanya menjadi simbol cinta tanah air, tetapi juga membawa harapan bagi para pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup pada musim kemerdekaan.
Bagi Beben, setiap lembar Merah Putih yang terjual bukan sekadar transaksi. Di baliknya tersimpan harapan agar usaha yang dipersiapkan hampir setahun penuh mampu membayar kerja keras, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga berarti kesempatan untuk terus bertahan di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (ifa)












