Feature

Perjalanan 14 Jam Demi Menjaga Warisan Budaya

408
×

Perjalanan 14 Jam Demi Menjaga Warisan Budaya

Sebarkan artikel ini
PERTUNJUKKAN : Direktur Central Kalimantan Choreographers Meeting 2026, Budi Jaya Habibi menampilkan pertunjukan tari kontemporer bertajuk Lapan Lapin dalam penutupan rangkaian Central Kalimantan Arts Summit di Panggung Terbuka UPT Taman Budaya Kalteng, Jumat (24/7/26) malam. FOTO : IFA/RADAR KALTENG

Lapan Lapin, Saat Rindu Jepin Sukamara Menari Kembali

Perjalanan itu tidak singkat. Jalan panjang yang membelah hutan, perkampungan, dan bentang alam Kalimantan menjadi saksi sebuah ikhtiar untuk menemukan kembali denyut budaya yang nyaris hanya hidup dalam ingatan para pelakunya.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

Sekitar 12 hingga 14 jam perjalanan ditempuh Direktur Central Kalimantan Choreographers Meeting (CKCM) 2026, Budi Jaya Habibi, bersama seorang komposer menuju Desa Padang, Kabupaten Sukamara.

Tujuannya bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan mendengar cerita yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui gerak tari Jepin.

Di desa itu, mereka bertemu dua maestro Jepin Sukamara, Sarwani dan Misrani. Dari keduanya, Budi tidak hanya mempelajari ragam gerak, tetapi juga memahami makna yang tersimpan di balik setiap langkah kaki dan ayunan tangan.

“Banyak hal yang tidak bisa ditemukan dalam buku. Kami harus datang langsung, mendengar cerita mereka, melihat bagaimana kesenian itu hidup di tengah masyarakat,” ujarnya, Jumat (24/7/26) malam.

Perjalanan panjang tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya Lapan Lapin, karya tari kontemporer yang menutup rangkaian Central Kalimantan Arts Summit di UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah,
Selama sekitar 45 menit, panggung berubah menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan masa kini.

Gerak para penari mengalir mengikuti irama, membawa penonton menyusuri perjalanan batin tentang kehilangan, penantian, kenangan, hingga harapan.

Namun, bagi Budi, apa yang tersaji di atas panggung hanyalah ujung dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

“Apa yang ditampilkan malam ini merupakan refleksi dari kesenian tersebut yang kami hadirkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini,” katanya.

Lapan Lapin tidak berusaha menyalin Jepin apa adanya. Sebaliknya, karya itu menjadi ruang dialog antara tradisi dan kreativitas baru. Bentuk-bentuk gerak yang diwariskan para maestro diterjemahkan kembali melalui pendekatan kontemporer tanpa melepaskan ruh yang menjadi jantung kesenian tersebut.

Nama Lapan Lapin dipilih karena memuat makna tentang rindu, perasaan yang menurut Budi dimiliki setiap manusia.

Dalam pandangannya, kerinduan tidak hanya berbicara tentang seseorang yang jauh, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan kampung halaman, masa lalu, bahkan identitas budayanya sendiri.

“Kerinduan adalah bahasa yang dimiliki setiap manusia dan menjadi bagian dari perjalanan hidup serta perubahan yang dialami setiap orang,” tuturnya.

Bagi masyarakat Sukamara, Jepin memang bukan sekadar tarian hiburan. Ia menjadi media untuk menyampaikan pesan kehidupan, hubungan antarmanusia, hingga rasa yang terkadang sulit diungkapkan lewat kata-kata.

Karena itu, proses riset menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penciptaan karya. Mendengar langsung kisah para maestro memberi pemahaman bahwa melestarikan budaya bukan hanya menghafal gerak, melainkan merawat nilai yang terkandung di dalamnya.

Di atas panggung, nilai-nilai tersebut kemudian hadir dalam bahasa tubuh yang lebih akrab dengan generasi sekarang. Tradisi tidak diposisikan sebagai peninggalan yang harus dipajang apa adanya, tetapi sebagai sumber inspirasi yang terus tumbuh mengikuti zaman.

Perjalanan ke Sukamara pun membuktikan bahwa menjaga warisan budaya membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Ia memerlukan kesediaan untuk datang, mendengar, belajar, dan menghargai para penjaga tradisi yang selama ini setia merawatnya.

Kepala UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, Wildae D. Binti, menilai upaya tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem seni di daerah.

Dukungan pemerintah melalui Dana Abadi Kebudayaan dan Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan, menurutnya, membuka ruang lebih luas bagi para seniman untuk melahirkan karya berbasis riset budaya.

Di penghujung pertunjukan, tepuk tangan penonton bergema memenuhi panggung terbuka Taman Budaya. Malam itu, perjalanan belasan jam menuju sebuah desa di Sukamara seolah menemukan tujuannya.

Cerita yang sebelumnya hidup dalam ingatan para maestro kini kembali bergerak, menari, dan menyapa generasi baru mengingatkan bahwa sebuah warisan budaya akan tetap hidup selama masih ada orang yang bersedia menempuh perjalanan untuk menjaganya. (ifa/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *