Trauma Anak Dinilai Bisa Bertahan hingga Dewasa
SAMPIT – Praktik perundungan atau bullying di lingkungan sekolah masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selain mengganggu proses belajar, tindakan tersebut dinilai dapat meninggalkan luka psikologis yang membekas hingga anak beranjak dewasa.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kotim Achmad Yusi mengatakan, anak-anak, khususnya yang berada di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), merupakan kelompok yang sangat rentan menjadi korban maupun pelaku perundungan karena masih berada dalam fase pembentukan karakter.
”Bullying ini sangat memprihatinkan. Dari sisi psikologi, otak anak masih dalam tahap berkembang dan daya ingat mereka sangat kuat. Pengalaman buruk yang terus berulang bisa membentuk karakter dan meninggalkan trauma yang berkepanjangan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Menurut dia, usia remaja awal merupakan masa ketika pengaruh lingkungan pertemanan lebih dominan dibandingkan arahan dari orang tua maupun guru. Kondisi itu membuat pengawasan dari seluruh pihak menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya perundungan.
Ia menegaskan, DPPPAPPKB melalui Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) siap memberikan pendampingan apabila ditemukan atau dilaporkan adanya kasus bullying di lingkungan sekolah.
”Kami memiliki UPT PPA yang siap memberikan pendampingan apabila ada laporan. Harapan kami, jangan sampai ada lagi bullying, karena ketika anak sudah mengalami trauma, proses pemulihannya tidak mudah,” katanya.
Achmad mengingatkan bentuk perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik. Ejekan, hinaan, pengucilan, hingga intimidasi secara verbal maupun psikologis sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sama bahkan lebih berat bagi korban.
”Bullying jangan dipandang sebagai hal biasa. Kekerasan fisik memang mudah terlihat, tetapi bullying secara verbal dan psikologis justru sering tidak disadari, padahal dapat memengaruhi kesehatan mental anak dalam jangka panjang,” tegasnya.
Sebagai upaya pencegahan, DPPPAPPKB terus menjalin kerja sama dengan satuan pendidikan untuk memperkuat penerapan konsep Sekolah Ramah Anak. Program tersebut merupakan salah satu indikator dalam mewujudkan Kabupaten Kotim sebagai daerah yang memenuhi standar kota layak anak. (pri)












