PALANGKA RAYA – Kabut asap tipis mulai tampak menyelimuti kawasan Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Sabtu (11/7/2026). Pantauan di lapangan, jarak pandang mulai berkurang dan aroma khas lahan gambut terbakar tercium cukup menyengat.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah mulai memasuki fase yang lebih serius. Meski upaya pemadaman darat dan water bombing terus dilakukan, api di lahan gambut belum sepenuhnya padam. Asap yang mulai menyelimuti kawasan menjadi peringatan dini bahwa musim kemarau mulai memperlihatkan dampaknya.
Selain itu, ancaman musim kemarau tahun ini diperkirakan semakin berat dengan adanya potensi pengaruh el nino yang dapat memicu kondisi lebih kering dari biasanya. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran kabut asap pekat seperti tahun 2015 kembali melanda Kalteng apabila karhutla tak bisa dikendalikan.
Karhutla juga dipantau langsung dari udara oleh Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan bersama Gubernur Agustiar Sabran. Dalam patroli udara tersebut, kapolda dan gubernur memantau sejumlah wilayah yang rawan terbakar.
Dari patroli udara itu, ditemukan dua titik api yang masih aktif. Yaitu berada di wilayah Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kapuas. Temuan tersebut langsung disampaikan kepada Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla agar segera mengambil langkah cepat sebelum api meluas.
Kapolda menegaskan, patroli udara sebagai bentuk deteksi dini sekaligus memastikan setiap titik api segera ditangani. Menurutnya, koordinasi seluruh unsur menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
“Mengingat kemarau tahun ini berjalan lebih lama, kami melakukan patroli dari udara untuk mengantisipasi. Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegas kapolda, Sabtu (11/7/2026).
Sementara data Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya mencatat 137 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kalteng pada Jumat (10/7/2026). Jumlah tersebut meningkat dan menjadi indikator meningkatnya potensi kebakaran di tengah cuaca yang semakin kering.
Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan hotspot terbanyak. Yakni 33 titik. Disusul Lamandau 23 titik, Pulang Pisau 19 titik, Kapuas 17 titik, Sukamara 13 titik, Gumas delapan titik, Kobar tujuh titik, serta Katingan dan Seruyan masing-masing lima titik.
Sementara itu, Barito Timur dan Barito Utara masing-masing terdeteksi dua hotspot. Adapun Barito Selatan, Murung Raya, dan Palangka Raya masing-masing tercatat satu titik panas berdasarkan pemantauan satelit BMKG.
Di Tumbang Nusa sendiri, kebakaran lahan gambut yang terjadi sejak 2 Juli masih belum bisa dipadamkan sepenuhnya. Luas lahan yang terdampak telah mencapai sekitar 41,5 hektare. Bara api yang tersimpan di bawah gambut membuat kobaran kembali muncul saat cuaca panas dan angin bertiup kencang.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD Pulang Pisau bersama BPBD Kalteng telah mengerahkan dua helikopter water bombing. Penyiraman dari udara terus dilakukan guna menekan penyebaran api di area yang sulit dijangkau tim darat.
Kepala Pelaksana BPBD Pulang Pisau Herman Wibowo menjelaskan, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan terbesar dalam pemadaman. Selain sulit mendapatkan sumber air, vegetasi semak belukar yang mengering membuat api cepat menjalar ke lokasi lain apabila tidak segera ditangani.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan maupun sampah selama kemarau. Dengan mulai munculnya kabut asap di Tumbang Nusa, ditemukan dua titik api saat patroli udara, serta meningkatnya jumlah hotspot di berbagai daerah, seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan agar Kalteng tidak kembali menghadapi bencana asap berskala besar seperti tahun-tahun sebelumnya. (ter/ung/ens)












