FeatureUtama

Jadi Petunjuk, Duga Tiga Polisi Dibunuh Sebelum Dibuang ke Sungai

745
×

Jadi Petunjuk, Duga Tiga Polisi Dibunuh Sebelum Dibuang ke Sungai

Sebarkan artikel ini
JEJAK DARAH : Kompolnas menemukan jejak darah saat meninjau lokasi penyerangan polisi di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Selasa (7/7/2026). FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Ketika Kompolnas Menemukan Ceceran Darah di Tumbang Kalemei

Tabir kematian tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan mulai menemukan titik terang. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap temuan penting setelah meninjau langsung lokasi tragedi di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Selasa (7/7/2026).

CECERAN darah yang ditemukan di sekitar tempat kejadian hingga mengarah ke tepi sungai menjadi petunjuk kuat bahwa para korban diduga dibunuh sebelum jasadnya dibuang ke Sungai Katingan pada Kamis (2/7/2026).

Komisioner Kompolnas Supardi Hamid menyampaikan, hasil penelusuran lapangan membantah dugaan awal yang menyebut ketiga personel Polri meninggal akibat tenggelam saat berusaha menyelamatkan diri dari serangan kelompok pelaku. Justru jejak darah yang ditemukan memperlihatkan adanya dugaan tindak kekerasan sebelum korban berada di sungai.

Menurut Supardi, ceceran darah tersebut membentuk rangkaian bukti yang mengarah langsung ke lokasi penemuan jasad. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa para korban lebih dahulu mengalami penganiayaan hingga meninggal dunia, kemudian tubuh mereka dibuang untuk menghilangkan jejak kejahatan.

“Teori bahwa korban melarikan diri ke sungai lalu tenggelam tidak terbukti. Fakta di lapangan menunjukkan adanya ceceran darah yang berakhir di sungai,” ujar Supardi dalam keterangan yang diterima, Selasa (7/7/2026).

Ia menegaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lokasi, tindakan para pelaku mengarah pada pembunuhan yang dilakukan secara sengaja terhadap aparat kepolisian yang sedang menjalankan tugas pemberantasan peredaran narkotika. Dugaan tersebut kini menjadi salah satu fokus utama dalam proses penyidikan.

Komisioner Kompolnas Choirul Anam menambahkan, pengungkapan kasus ini tidak boleh berhenti hanya pada pelaku yang melakukan penyerangan di lapangan. Aparat penegak hukum diminta membongkar hingga ke aktor utama dan jaringan peredaran narkotika yang diduga menjadi pemicu tragedi berdarah tersebut.

Menurut Anam, peristiwa yang merenggut nyawa tiga anggota Polri itu harus menjadi momentum untuk memperkuat perang terhadap narkoba. “Keberadaan bandar dan jaringan pengedar harus diberantas hingga ke akar agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” tegasnya.

Tragedi itu bermula saat tim Satresnarkoba Polres Katingan melakukan operasi penggerebekan terhadap dugaan aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei pada Kamis (2/7/2026) dini hari. Operasi berubah ricuh setelah petugas mendapat perlawanan dari kelompok pelaku yang diduga menggunakan senjata tajam, senjata api rakitan, dan benda berbahaya lainnya.

Dalam insiden tersebut, sembilan personel berhasil dievakuasi dengan selamat. Sementara tiga anggota, yakni Ipda (Anumerta) Sumariyanto, Aiptu (Anumerta) Yudhie Perdana Putra, dan Briptu (Anumerta) Nopandri Ramadhana, gugur saat menjalankan tugas negara.

Hingga kini penyidik telah mengamankan tiga terduga pelaku berinisial S, N, dan R. Sementara bandar sabu yang diduga menjadi target utama operasi, berinisial BIO, masih dalam pengejaran aparat. Temuan ceceran darah di lokasi kejadian diharapkan menjadi bukti penting untuk mengungkap secara utuh kronologi serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tewasnya tiga anggota Polri tersebut. (ter)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *