Feature

Berjualan Jajan Khas Kobar di Arena Car Free Day

756
×

Berjualan Jajan Khas Kobar di Arena Car Free Day

Sebarkan artikel ini
MENAWARKAN DAGANGAN : Hadriannoor (23), mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam UIN Palangka Raya tengah menawarkan makanan ringan khas Kobar kepada pengunjung di arena car free day, Minggu (5/7/2026). IFA/RADAR KALTENG

Cara Mahasiswa UIN Palangka Raya Bangun Kepercayaan Diri

Suasana car free day (CFD) setiap Minggu pagi selalu ramai oleh beragam aktivitas masyarakat. Ada yang berolahraga, berkumpul bersama keluarga, dan tak sedikit pula yang berburu aneka kuliner di sepanjang kawasan dekat pusat Kota Palangka Raya tersebut. Di sela keramaian itu, seorang pemuda berjalan perlahan sambil menenteng kresek besar berisi makanan ringan. Dengan ramah, ia menghampiri pengunjung, menawarkan dagangannya. “Silakan, kak, amplang, stik, keripik pisangnya”.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

PEMUDA itu adalah Hadriannoor, mahasiswa usia 23 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Jurusan Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya.

Berbeda dengan sebagian mahasiswa yang memilih menghabiskan akhir pekan untuk beristirahat, ia justru memanfaatkan waktunya untuk berjualan keliling.

Bagi sebagian orang, menjadi pedagang asongan bukanlah pilihan yang mudah. Rasa malu, gengsi, hingga takut ditolak sering kali menjadi penghalang. Namun bagi Hadriannoor, justru di situlah ia ingin menempa dirinya.

Ia menegaskan bahwa keputusan berjualan bukan semata-mata untuk mencari penghasilan tambahan, melainkan untuk membentuk mental yang kuat serta melatih kemampuan komunikasi.

“Pertama untuk melatih skill saya, keberanian saya, kepedean saya. Saya ingin membuktikan bahwa anak muda itu punya kemampuan dan tidak perlu malu di hadapan orang ramai,” ungkapnya, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, banyak mahasiswa sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak berani mengekspresikan diri karena rasa malu. Padahal, kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi menjadi bekal penting setelah lulus kuliah.

“Kalau jualan seperti ini pasti banyak malunya. Ketemu orang-orang, menawarkan dagangan, kadang ditolak. Tapi justru dari situ kita belajar,” katanya.

Dalam kesehariannya, Hadriannoor belajar menghadapi berbagai karakter orang. Ada yang membeli dengan ramah, ada yang menolak halus, bahkan ada yang tidak merespons sama sekali. Namun ia tidak melihat itu sebagai kegagalan.

“Kalau tidak dibeli orang, ya berarti kita belajar sabar. Rezeki sudah diatur Allah. Kita harus ikhlas dan tetap semangat,” ujarnya.

Prinsip itu membuatnya bertahan menjalani usaha kecilnya selama hampir empat tahun, sejak awal menjadi mahasiswa. Hingga kini, ia masih rutin berjualan di waktu luang, terutama setiap Minggu di kawasan CFD.

Produk yang ia jual merupakan makanan ringan khas daerah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), seperti amplang, stik, dan keripik pisang. Produk-produk tersebut merupakan hasil usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal yang ia bantu pasarkan kepada masyarakat luas.

Menurut Hadriannoor, produk lokal dari Kobar memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk lain. Karena itu, ia merasa bangga dapat sekaligus memperkenalkan produk daerah ke pengunjung CFD yang datang dari berbagai tempat.

“Kelebihannya juga supaya kita memajukan UMKM yang ada di Kobar, sekaligus mengenalkan produk daerah kepada masyarakat,” tuturnya.

Bagi Hadriannoor, waktu luang sebagai mahasiswa sebaiknya dimanfaatkan secara produktif. “Saya sebagai mahasiswa juga punya waktu kosong. Daripada terbuang sia-sia, lebih baik saya isi dengan kegiatan yang bermanfaat seperti jualan,” katanya.

Selain berjualan langsung di CFD, ia juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk UMKM Kobar tersebut agar jangkauannya lebih luas.

Dari CFD dalam sekali berjualan, ia mampu menjual sekitar 30 bungkus makanan ringan, mulai harga Rp 8.000 untuk kemasan kecil hingga Rp 30.000 untuk kemasan besar. “Alhamdulillah lumayan. Minggu kemarin sekitar 30 bungkus habis,” ujarnya dengan rasa syukur.

Di tengah kesibukannya berdagang, ia tetap menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Hadriannoor juga aktif dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sehingga harus pandai membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan usaha.

Menurutnya, semua aktivitas tersebut saling melengkapi dalam membentuk dirinya. “Organisasi melatih kepemimpinan dan kerja sama, sedangkan jualan mengajarkan keberanian, kesabaran, serta cara menghadapi berbagai karakter orang,” jelasnya.

Meski masih panjang perjalanan hidupnya, ia sudah memiliki rencana ke depan. Setelah lulus kuliah, ia berencana mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun, ia tidak ingin meninggalkan dunia usaha yang sudah membentuk dirinya.

Ia berharap suatu saat bisa menjadi pengusaha muda yang mampu membuka lapangan pekerjaan sekaligus terus mengembangkan produk UMKM Kobar.

Perjalanan Hadriannoor menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Bahkan, keberanian sederhana seperti menawarkan satu bungkus makanan kepada orang yang tidak dikenal dapat menjadi awal perubahan besar dalam hidup.

Di tengah pandangan sebagian orang yang masih meremehkan pekerjaan tertentu, ia membuktikan bahwa bekerja dengan jujur jauh lebih bermakna daripada membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.

“Setiap penolakan itu pelajaran, setiap pembeli itu pengalaman, dan setiap hari itu kesempatan untuk berkembang,” begitu prinsip yang ia jalani dalam kesehariannya.

Di setiap langkahnya menyusuri keramaian CFD, Hadriannoor tidak sekadar menjual makanan ringan. Ia sedang membangun keberanian, mengasah mental, dan menyiapkan dirinya menghadapi kehidupan setelah bangku kuliah. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *