Pulang Pisau

Pulpis Evaluasi Efektivitas Penanganan Stunting

47
×

Pulpis Evaluasi Efektivitas Penanganan Stunting

Sebarkan artikel ini
SAMBUTAN: Wakil Bupati Pulang Pisau, H Ahmad Jayadikarta saat membuka kegiatan ekspose awal kajian efektivitas kebijakan konvergensi stunting dalam menurunkan prevelensi stunting, Kamis (25/6/26). Foto: Ung

PULANG PISAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulang Pisau menggelar ekspose awal kajian efektivitas kebijakan konvergensi stunting sebagai upaya mengevaluasi pelaksanaan program percepatan penurunan prevalensi stunting di daerah tersebut di Aula Kantor Bapperida Pulang Pisau, Kamis (25/6/26).
Ekspose dibuka oleh Wakil Bupati Pulang Pisau, H. Ahmad Jayadikarta, dan dihadiri Sekretaris Daerah Tony Harisinta, Asisten I Drs. Supriyadi, Asisten III Moh. Insyafi, Kepala Bapperida Bakhzar Efendi, kepala perangkat daerah, camat, serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Ahmad Jayadikarta menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan salah satu prioritas pembangunan daerah karena berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, stunting bukan hanya menjadi persoalan sektor kesehatan, tetapi juga berdampak terhadap perkembangan fisik, kecerdasan, produktivitas, dan daya saing generasi mendatang. Oleh sebab itu, penanganannya memerlukan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.
Ia menekankan pentingnya evaluasi kebijakan yang didasarkan pada bukti dan kajian ilmiah. Hasil kajian tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran objektif mengenai efektivitas berbagai kebijakan dan program yang telah dijalankan selama ini.
“Pemkab Pulang Pisau memerlukan data dan analisis yang akurat sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan,” ujar Jayadikarta.
Ia juga menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu perangkat daerah saja. Seluruh unsur yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat harus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pelaksanaan program.
Selain itu, penanganan stunting harus difokuskan pada penyebab dasar maupun penyebab spesifik, mulai dari pemenuhan gizi ibu dan anak, pola asuh, akses terhadap pelayanan kesehatan, sanitasi, ketersediaan air bersih, ketahanan pangan keluarga, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat. (ung/ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *