Kalimantan Tengah

Hingga Juni 2026, 8.762 Kasus Diabetes Tercatat di Kalteng, Kotim Tertinggi

150
×

Hingga Juni 2026, 8.762 Kasus Diabetes Tercatat di Kalteng, Kotim Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Hingga Juni 2026, 8.762 Kasus Diabetes Tercatat di Kalteng, Kotim Tertinggi.

PALANGKA RAYA – Jumlah penderita diabetes di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan Kalteng mencatat sebanyak 8.762 kasus diabetes yang telah dilaporkan dari kabupaten dan kota se-Kalteng. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi daerah dengan angka kasus tertinggi, yakni mencapai 1.672 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, Suyuti Syamsul, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Riza Syahputra, mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara karena pelaporan kasus tahun 2026 masih terus berjalan dan diperkirakan meningkat hingga akhir tahun.

“Data yang kami himpun menunjukkan pada tahun 2024 terdapat 37.849 penderita diabetes, kemudian meningkat menjadi 45.989 kasus pada tahun 2025. Sementara hingga Juni 2026, sudah terlapor 8.762 kasus dan jumlahnya masih akan terus bertambah seiring berjalannya pelaporan dari kabupaten dan kota,” ujar Riza, Sabtu (20/6/26).

Ia menjelaskan, Kabupaten Kotim menjadi wilayah dengan jumlah kasus diabetes tertinggi pada tahun ini. Hingga pertengahan tahun, tercatat sebanyak 1.672 warga di daerah tersebut menderita diabetes.

Menurut Riza, tingginya kasus diabetes di Kotim dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya pola konsumsi makanan dan minuman manis yang masih tinggi, seperti kue, jajanan, teh manis, kopi manis, hingga minuman kemasan berpemanis.

Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin urban juga menjadi pemicu meningkatnya kasus diabetes. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, kurangnya konsumsi sayur dan buah, serta rendahnya aktivitas fisik akibat dominasi penggunaan kendaraan bermotor dan minimnya olahraga menjadi faktor risiko yang cukup besar.

“Obesitas, terutama obesitas sentral atau perut buncit, juga menjadi faktor risiko utama diabetes melitus tipe 2. Selain itu, masih banyak masyarakat yang terlambat melakukan pemeriksaan sehingga penyakit baru diketahui saat kondisi sudah berkembang,” katanya.

Berdasarkan kelompok usia, Dinas Kesehatan Kalteng menyebutkan bahwa diabetes paling banyak ditemukan pada masyarakat berusia 45 tahun ke atas. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh menurunnya metabolisme tubuh, berkurangnya fungsi pankreas, serta menurunnya sensitivitas insulin seiring bertambahnya usia.

Meski demikian, Riza mengingatkan bahwa diabetes kini juga dapat menyerang usia yang lebih muda, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga diabetes, hipertensi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula.

Untuk mencegah diabetes sejak dini, Dinkes Kalteng mengimbau masyarakat agar rutin memeriksa kadar gula darah, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes. Masyarakat juga diminta mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta aktif berolahraga minimal 30 menit setiap hari.

“Masyarakat juga perlu menjaga berat badan ideal, mengelola stres, serta menerapkan perilaku hidup sehat melalui gerakan CERDIK, yakni cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat, istirahat cukup, dan kendalikan stres,” pungkasnya. (ifa/)

Data diabetes 3 tahun terakhir :
Tahun 2024 terdapat 37.849 kasus
Tahun 2025 terdapat 45.989 kasus
Juni 2026 sudah terlapor 8.762 kasus
Kotim angka kasus tertinggi capai 1.672 kasus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *