Feature

Perpaduan Seni, Ketangkasan dan Adat

103
×

Perpaduan Seni, Ketangkasan dan Adat

Sebarkan artikel ini
LAWANG SAKEPENG : Peserta menampilkan atraksi Lawang Sakepeng saat lomba dalam rangka FBIM 2026 di KAWASAN GOR Indoor Serbaguna, Palangka Raya, Selasa (19/5/2026). RICKY THEODORUS/RADAR KALTENG

Lawang Sakepeng, Merawat Identitas Dayak di Arena FBIM 2026

Sorak penonton pecah saat satu per satu regu memasuki arena lomba lawang sakepeng di kawasan GOR Indoor Serbaguna, Kota Palangka Raya, Selasa pagi (19/5/2026). Denting musik tradisional berpadu gerak lincah para peserta membuat suasana Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 terasa hidup. Di balik kemeriahan itu, tersimpan satu pesan penting, budaya Dayak terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

RICKY THEODORUS, Palangka Raya

SEBANYAK 20 regu dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah ikut ambil bagian dalam lomba tersebut. Terdiri dari 13 tim putra dan 7 tim putri. Seluruh peserta tampil penuh semangat membawa ciri khas daerah masing-masing. Penonton yang memadati arena tampak antusias menyaksikan setiap gerakan yang sarat unsur seni, ketangkasan, dan nilai adat.

Lawang sakepeng sendiri bukan sekadar pertunjukan biasa. Tradisi yang juga dikenal sebagai kuntau Dayak itu sejak lama menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju. Biasanya atraksi ini ditampilkan saat menyambut tamu kehormatan maupun dalam prosesi perkawinan adat. Karena itu, ketika diperlombakan di FBIM, masyarakat merasa seperti sedang melihat kembali warisan leluhur yang masih hidup hingga sekarang.

Bentuk lawang sakepeng pun menarik perhatian. Gapura adat yang terbuat dari kayu dihiasi ukiran tanaman rambat, ornamen burung enggang, janur, hingga talawang khas Dayak. Di balik tampilannya yang indah, tersimpan filosofi mendalam tentang penghormatan kepada tamu dan harapan agar sebuah acara berjalan aman serta penuh berkah.

Pengamat budaya Kalteng Wilbertus Wilson mengatakan, lawang sakepeng sejatinya adalah ekspresi kebahagiaan masyarakat Dayak dalam menyambut tamu. “Budaya seperti ini penting terus diperkenalkan kepada generasi muda karena tidak hanya mengandung unsur seni, tetapi juga nilai disiplin, sportivitas, hingga pembentukan karakter,” jelasnya.

Pelaksanaan lomba budaya di FBIM menjadi cara efektif menjaga identitas daerah di tengah perkembangan modern. Apalagi saat ini anak muda lebih banyak terpapar budaya luar melalui media sosial dan teknologi digital. Karena itu, ruang-ruang budaya seperti FBIM dianggap penting agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya sendiri.

Semangat pelestarian budaya juga dirasakan para peserta. Salah satunya Mario Fransisko yang mengaku bangga bisa tampil di ajang budaya terbesar di Kalteng tersebut. Bersama timnya, mereka harus berlatih kekompakan sekaligus memahami makna dari setiap gerakan dalam lawang sakepeng. Baginya, tampil di arena bukan hanya soal menang lomba, tetapi juga memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat luas.

Melalui FBIM 2026, lawang sakepeng kembali membuktikan bahwa budaya tradisional masih punya tempat di hati masyarakat. Di tengah arus modernisasi, tradisi itu tetap berdiri sebagai simbol jati diri masyarakat Dayak dan warga Kalteng secara umum. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi terus diwariskan agar generasi berikutnya tetap tahu dari mana mereka berasal. (ter/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *