Feature

Filosofi Sungai dan Ikan Sapan Bawa Mura Juara

329
×

Filosofi Sungai dan Ikan Sapan Bawa Mura Juara

Sebarkan artikel ini
ANYAM ROTAN : Peserta perwakilan Murung Raya merapikan anyaman rotan pada lomba Manjawet Uwei FBIM di Halaman GOR Serbaguna, Kota Palangka Raya, Rabu (19/5/2026). FOTO MEDIA CENTER

Dari Lomba Manjawet Uwei FBIM 2026

Kabupaten Murung Raya (Mura) akhirnya berdiri di puncak lomba keterampilan tradisional manjawet uwei pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026. Di tengah gegap gempita festival budaya terbesar di Kalimantan Tengah itu, kemenangan tersebut terasa lebih dari sekadar prestasi lomba.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

DARI helai-helai rotan yang dianyam perlahan, Murung Raya membawa pulang kemenangan sekaligus pesan tentang warisan budaya Dayak yang masih hidup dan terus dijaga.

Pada Selasa (19/5/2026), suasana di halaman belakang GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya tampak berbeda dibanding arena lomba lainnya di FBIM 2026. Tidak ada musik keras ataupun teriakan penonton yang memecah suasana. Yang terdengar justru bunyi gesekan rotan, langkah kaki pelan, dan percakapan lirih para peserta yang sibuk merangkai anyaman.

Di arena sederhana itulah sembilan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah duduk berjejer sambil menekuni pekerjaan mereka. Jemari mereka bergerak perlahan namun pasti. Rotan disusun, diselipkan, lalu dikencangkan hingga membentuk pola yang rapi. Sesekali mereka berhenti sejenak, memperhatikan susunan anyaman agar tetap simetris sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.

Selama hampir delapan jam, para peserta bertahan dengan ketelitian dan kesabaran. Tidak hanya mengandalkan keterampilan tangan. Mereka juga membawa identitas budaya daerah masing-masing melalui motif dan pola anyaman khas Dayak. Namun di antara seluruh karya yang memenuhi arena lomba, motif milik Murung Raya menjadi salah satu yang paling menyita perhatian.

Kontingen Murung Raya menghadirkan motif  ikan sapan, motif khas yang sarat makna filosofis bagi masyarakat Dayak pedalaman. Di balik pola hitam dan warna alami rotan yang tersusun rapi, tersimpan cerita panjang tentang hubungan masyarakat dengan sungai dan alam Kalimantan.

Bagi masyarakat Murung Raya, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah jalur perjalanan, sumber kehidupan, tempat mencari nafkah, sekaligus ruang budaya yang diwariskan turun-temurun. Dari sungailah masyarakat mengenal perjalanan, perdagangan, hingga hubungan antarkampung.

Sementara ikan sapan menjadi simbol penting yang menggambarkan ketahanan, kebersamaan, dan kemampuan bertahan menghadapi derasnya arus kehidupan.

Filosofi itulah yang coba dihadirkan dalam anyaman rotan karya kontingen Murung Raya.

Ketika hasil akhir karya mulai tampak menjelang sore, area lomba dipenuhi beragam bentuk dan motif anyaman. Ada yang menghadirkan pola sederhana, ada pula yang memilih bentuk rumit dengan detail-detail kecil yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Namun karya Murung Raya tampil menonjol karena bukan hanya menghadirkan teknik anyaman yang rapi, melainkan juga cerita budaya yang kuat di balik setiap helainya.

Keputusan dewan juri pun akhirnya menetapkan Murung Raya sebagai juara I Lomba Manjawet Uwei FBIM 2026. Kabupaten Kapuas meraih juara II, sementara Kota Palangka Raya menempati posisi juara III.

Bupati Mura Heriyus mengatakan, prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Murung Raya. “Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Murung Raya. Saya mengapresiasi kerja keras dan semangat para peserta yang telah membawa nama daerah hingga meraih juara I pada lomba Manjawet Uwei di FBIM 2026,” ujarnya.

Menurut Heriyus, kemenangan itu bukan hanya soal menjadi yang terbaik dalam perlombaan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga budaya dan tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Kita ingin budaya dan tradisi daerah terus diwariskan kepada generasi muda. Melalui kegiatan seperti FBIM ini, kita menunjukkan bahwa Murung Raya memiliki kekayaan budaya yang harus dijaga bersama,” tambahnya.

Koordinator Lomba Manjawet Uwei Maria Doya Aden mengatakan, lomba tersebut memang dihadirkan sebagai upaya memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Manjawet uwei ini kami hadirkan agar generasi muda mengenal budaya dan kearifan lokal masyarakat Dayak. Kami ingin mereka mengetahui bahwa budaya ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari identitas daerah,” katanya.

Menurut Maria, tema “Pesona Kalimantan Tengah” yang diangkat tahun ini memberikan kebebasan kepada peserta untuk menghadirkan ciri khas daerah masing-masing melalui karya anyaman.

Panitia hanya menyediakan bahan dasar berupa uwei atau rotan. Sementara bentuk, motif, dan makna karya sepenuhnya menjadi kreativitas peserta.

Dari kebebasan itulah lahir berbagai karya dengan karakter berbeda-beda. Namun motif ikan sapan dari Murung Raya berhasil tampil sebagai representasi kuat tentang identitas masyarakat Dayak pedalaman.

Di tengah riuh FBIM 2026, kemenangan Murung Raya lewat manjawet uwei menjadi pengingat bahwa budaya tidak selalu hadir dalam kemegahan panggung atau suara yang menggelegar. Kadang budaya hidup dalam kesabaran jemari yang menganyam rotan satu demi satu.

Dan dari anyaman sederhana itulah, Murung Raya membawa pulang kemenangan sekaligus menjaga cerita tentang identitas Dayak agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *