Getah Nyatu, Jejak Warisan Dayak dari Palangka Raya ke Pasar Dunia
Di sebuah rumah produksi sederhana di sudut Kota Palangka Raya, aroma khas getah nyatu menyeruak memenuhi ruangan. Di antara tumpukan pewarna merah, kuning, hijau, putih, dan hitam khas budaya Dayak, tangan-tangan terampil para perajin bergerak telaten membentuk karya demi karya. Suasana hangat itu tampak di Rumah Produksi Getah Nyatu Pandji di Jalan Karandang IV, Kamis (7/5/2026).
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
DI tempat inilah tradisi lama terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Surtiati (61), pemilik rumah produksi tersebut, telah mengabdikan hampir separuh hidupnya untuk kerajinan getah nyatu.
Sejak 1997, dia konsisten mempertahankan seni olahan getah pohon nyatu yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah.
Dengan ketelitian tinggi, Surtiati bersama para perajinnya mengolah getah alami menjadi berbagai karya seni bernilai tinggi. Mulai dari miniatur rumah betang, perahu naga, tameng Dayak, hingga replika kantong semar. Seluruhnya dibuat secara manual dengan detail yang rumit. “Kalau dikerjakan dengan hati, hasilnya akan punya jiwa,” ujar Surtiati sambil merapikan salah satu pesanan suvenir dari warga.
Bagi masyarakat Dayak, getah nyatu bukan sekadar bahan kerajinan. Material alami yang berasal dari hutan Kalimantan itu menyimpan makna budaya dan filosofi kehidupan. Warna-warna yang digunakan pun sarat simbol, mencerminkan keberanian, keseimbangan, kesucian, hingga hubungan manusia dengan alam.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Rumah Produksi Pandji memilih tetap bertahan dengan proses tradisional. Tidak ada mesin besar atau teknologi canggih. Semua dikerjakan dengan tangan. Mulai dari proses perebusan getah hingga pembentukan dan pewarnaan.
Untuk menyelesaikan satu karya berukuran besar, para perajin bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu. Bahkan berbulan-bulan. Namun justru dari proses panjang itulah lahir karya yang memiliki nilai seni tinggi sekaligus karakter khas yang sulit ditiru produk pabrikan.
Nilai ekonominya pun terus meningkat. Produk kerajinan getah nyatu kini dipasarkan dengan harga beragam. Mulai dari gantungan kunci seharga Rp 35 ribu hingga karya eksklusif bernilai Rp 150 juta berupa miniatur burung garuda berukuran 200 x 180 sentimeter.
Permintaan pasar juga terus bertambah. Jika sebelumnya pemasaran hanya berputar di wilayah lokal, kini karya-karya dari Rumah Produksi Pandji telah menjangkau berbagai daerah seperti Jakarta, Sulawesi, hingga Sumatera Barat.
Tahun 2026 menjadi babak baru bagi perjalanan kerajinan getah nyatu. Untuk pertama kalinya, produk budaya khas Kalimantan Tengah itu direncanakan menembus pasar internasional melalui ekspor perdana ke Selandia Baru.
Bagi Surtiati, langkah tersebut bukan hanya tentang bisnis. “Ekspor ini menjadi harapan baru bagi kami untuk memperkenalkan budaya Dayak ke kancah global, sekaligus memperkuat posisi produk lokal di pasar internasional,” katanya.
Di balik setiap miniatur dan ukiran yang dihasilkan, tersimpan cerita panjang tentang hutan Kalimantan, warisan leluhur, dan semangat menjaga identitas budaya. Rumah Produksi Pandji bukan sekadar tempat bekerja bagi para perajin, melainkan ruang hidup tempat tradisi terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari sebuah rumah sederhana di Palangka Raya, getah nyatu kini melangkah lebih jauh membawa nama budaya Dayak menuju panggung dunia. (ifa/ens)












