Utama

Antrean SPBU Mengular Usai Kenaikan BBM Non-Subsidi

393
×

Antrean SPBU Mengular Usai Kenaikan BBM Non-Subsidi

Sebarkan artikel ini
PASCAKENAIKAN: Antrean kendaraan mengular di SPBU Jalan Imam Bonjol, Kota Palangka Raya, Selasa (5/5/2026), pascakenaikan harga BBM non-subsidi. Warga rela menunggu lama untuk mendapatkan Pertamax di tengah jam sibuk aktivitas pagi dan sore hari. RICKY THEODORUS/RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku sejak 4 Mei 2026 di Kalimantan Tengah masih (Kalteng) memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di Kota Palangka Raya. Kondisi tersebut terutama terlihat pada jam-jam sibuk, saat aktivitas masyarakat meningkat pada pagi dan sore hari.

Pantauan di lapangan, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular di beberapa titik SPBU. Bahkan, sebagian pengendara harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan BBM, khususnya jenis Pertamax yang masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Sales Branch Manager (SBM) Kalteng 1 Fuel Hari Harjunadi menegaskan, penetapan harga BBM bukan merupakan kewenangan pihaknya. Menurutnya, Pertamina hanya bertugas sebagai badan penyalur, sementara kebijakan harga ditentukan oleh pemerintah pusat.

“Terkait kenaikan harga, kami hanya bertugas sebagai badan penyalur, sementara penetapan harga merupakan kewenangan pemerintah pusat,” ucapnya, Selasa (5/5/2026).

Penyesuaian harga kali ini terjadi pada BBM non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex. Sementara itu, harga Pertamax tetap berada di angka Rp12.600 per liter, sehingga permintaan terhadap jenis BBM tersebut masih tergolong tinggi di masyarakat.

Untuk mengantisipasi lonjakan antrean, Pertamina telah memperpanjang jam operasional sejumlah SPBU di Palangka Raya. Beberapa SPBU bahkan kini beroperasi hingga larut malam guna mengurai kepadatan kendaraan.

“SPBU Pal 12 beroperasi 24 jam, sedangkan Yos Sudarso, Diponegoro, Soekarno, dan Imam Bonjol diperpanjang hingga pukul 23.00 atau 24.00,” jelas Hari.

Meski langkah tersebut telah dilakukan, antrean tetap terjadi pada waktu-waktu tertentu. Penumpukan kendaraan umumnya terjadi saat jam berangkat kerja, mengantar anak sekolah, hingga sore hari ketika masyarakat kembali beraktivitas.

Selain itu, ia menambahkan antrean panjang sebelumnya juga dipicu oleh selisih harga antara solar industri dan Dexlite yang sempat mencapai hampir Rp10.000. Saat ini, selisih tersebut telah turun menjadi sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000, namun dampaknya masih terasa di lapangan.

Kebiasaan masyarakat yang cenderung memilih SPBU langganan turut memperparah antrean di titik tertentu. Ia pun mengimbau warga untuk memanfaatkan SPBU alternatif agar distribusi antrean lebih merata dan pelayanan bisa lebih optimal. (ter)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *