Perusahaan pengelola kapal Epaminondas melaporkan bahwa kapal mereka ditembaki oleh kapal bersenjata di lepas pantai Oman hingga menyebabkan kerusakan pada bagian anjungan. Sementara itu, kapal kargo lain juga diserang beberapa jam kemudian, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Ketegangan ini terjadi hanya sehari setelah Trump memperpanjang gencatan senjata yang rapuh, sembari tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Situasi tersebut praktis membuat ekspor melalui Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, terhenti hampir sepenuhnya.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, lebih dari 30 serangan terhadap kapal telah terjadi di kawasan Timur Tengah. Dampaknya terasa luas, mulai dari lonjakan harga energi hingga kenaikan biaya pangan global.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus angka 100 dolar AS per barel, melonjak sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang. Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, memperingatkan dampak jangka panjang bagi konsumen dan dunia usaha, dengan kerugian yang diperkirakan mencapai EUR 500 juta per hari bagi Eropa.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling rawan di dunia, dengan pernyataan sepihak dan aksi militer yang berpotensi memperluas konflik global.
Editor: Estu Suryowati
Sumber : jawapos.com












