PALANGKA RAYA – Wakil Ketua III DPRD Kalimantan Tengah, Junaidi Sag, MAP mendorong pemerintah daerah, untuk terus memperkuat pilar perekonomian desa. Menurutnya, kemajuan daerah tidak akan terlepas dari kemandirian ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
Salah satu strategi yang ditawarkan adalah melalui pengembangan usaha lokal berbasis potensi kreatif serta dukungan permodalan yang berkelanjutan.
“Pemerintah daerah harus terus fokus memperkuat ekonomi desa. Salah satunya melalui pengembangan usaha lokal berbasis potensi kreatif serta dukungan permodalan yang berkelanjutan,” katanya Kamis (23/4/2026).
Produk-produk pertanian, kerajinan tangan, hingga pariwisata desa menyimpan potensi besar untuk menembus pasar nasional bahkan internasional. Pemerintah daerah harus mendorong potensi-potensi desa untuk tembus ke pasara internasional.
Ia menilai, Kalimantan Tengah memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, untuk bisa bersaing, produk-produk tersebut perlu sentuhan yang lebih serius. Ia mencontohkan sejumlah komoditas yang sudah memiliki nama, seperti anyaman rotan dari Desa Kahayan Kuala dan kopi robusta dari Kecamatan Bukit Santuai.
“Komoditas unggulan seperti anyaman rotan dari Kahayan Kuala dan kopi robusta dari Bukit Santuai perlu mendapatkan perhatian serius. Khususnya dalam peningkatan kualitas produk dan pengemasan agar lebih menarik dan kompetitif di pasaran,” ujarnya.
Junaidi menjelaskan, penguatan ekonomi desa harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari membangun ekosistem ekonomi kreatif. Hal ini mencakup inovasi produk, peningkatan kapasitas pelaku usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pelatihan yang benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Bukan sekadar teori, melainkan keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan.
“Kita perlu pelatihan pembuatan label bermerek, strategi pemasaran online, serta pendampingan manajemen usaha yang berkelanjutan. Dengan begitu, produk desa tidak hanya bagus, tapi juga dikenal luas dan dikelola secara profesional,” jelasnya.
Selain aspek peningkatan kapasitas sumber daya manusia, faktor permodalan juga menjadi sorotan utama. Junaidi menegaskan bahwa DPRD mendorong adanya alokasi anggaran daerah melalui skema dana bergulir desa dengan sistem bunga rendah atau bahkan tanpa bunga, agar mudah diakses oleh masyarakat.
Menurutnya, selama ini banyak ide usaha brilian di desa yang gagal berkembang hanya karena terkendala modal dan pendampingan. “Banyak ide bagus di desa yang mati di tengah jalan karena kurangnya dukungan teknis dan finansial. Ini PR kita bersama. Oleh karena itu, dukungan pembiayaan seperti dana bergulir menjadi sangat penting agar usaha di desa bisa tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. (rdi)












