Feature

Setop Sepeda Motor, Beralih ke Sepeda Kayuh

504
×

Setop Sepeda Motor, Beralih ke Sepeda Kayuh

Sebarkan artikel ini
JUAL ES KRIM : Dodi menjajakan es krim keliling menggunakan sepeda kayuh, Minggu (19/4/2026). IFA/RADAR KALTENG

Ketika Pedagang Es Krim Kena Dampak Antrean BBM

Deretan kendaraan mengular panjang di stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) menjadi pemandangan yang kian akrab belakangan ini. Mesin-mesin kendaraan menyala, pengendara menunggu dengan wajah lelah, sementara waktu terus berjalan tanpa bisa ditarik kembali.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

BAGI sebagian orang, antrean itu mungkin sekadar gangguan dalam rutinitas. Namun bagi mereka yang menggantungkan hidup dari jalanan, situasi ini menghadirkan dilema. Tetap menunggu dengan risiko kehilangan penghasilan, atau mencari cara lain untuk bertahan.

Di tengah kondisi itulah, Dodi memilih jalannya sendiri. Ketika banyak orang masih terjebak dalam antrean bahan bakar minyak (BBM), ia justru sudah melaju pelan di atas sepedanya, menyusuri Jalan Arut dan sekitarnya sejak pagi hari. Tanpa suara mesin, tanpa asap knalpot motor. Hanya bunyi gesekan roda dan sapaan sederhana kepada calon pembeli.

Di belakangnya, sebuah kotak es krim menjadi sumber penghidupan yang kini ia pertahankan dengan cara berbeda. “Sekarang minyak susah, antre lama. Jadi lebih baik pakai sepeda saja,” kata Dodi, Minggu (19/4/2026).

Keputusan itu bukan sekadar pilihan alat transportasi, melainkan bentuk adaptasi atas situasi yang memaksa. Dari antrean panjang BBM hingga perubahan cara berjualan, kisah Dodi menjadi gambaran bagaimana krisis energi merembet hingga ke denyut kehidupan pedagang kecil mengubah kebiasaan, strategi, bahkan cara mereka memaknai usaha dan bertahan hidup. “Biasanya dari jam delapan, pulangnya setengah dua belas. Nanti lanjut lagi, biar tidak terlalu capek,” ujar Dodi sambil tersenyum.

Beberapa waktu lalu, pemandangan seperti ini mungkin jarang terlihat. Penjual es krim keliling lebih sering menggunakan sepeda motor. Namun situasi berubah ketika antrean panjang BBM menjadi hal yang lumrah. Bagi sebagian orang, itu sekadar ketidaknyamanan. Tapi bagi Dodi, itu berarti waktu, tenaga, dan biaya yang terbuang.

Selama sekitar empat tahun, ia mengandalkan sepeda motor untuk berjualan. Namun kondisi BBM yang semakin sulit membuatnya harus berpikir ulang. “Sekarang minyak susah, antre lama. Jadi lebih baik pakai sepeda saja,” katanya lugas.

Keputusan itu bukan hal mudah. Beralih dari kendaraan bermotor ke sepeda kayuh berarti harus mengandalkan tenaga sendiri untuk menempuh rute yang cukup jauh. Namun Dodi melihatnya sebagai solusi paling realistis.

Ia kini menjangkau berbagai wilayah dengan kayuhan sepedanya. “Bisa ke Jalan Beliang, bisa ke Tjilik Riwut pal 4, ke mana-mana saja,” ujarnya.

Meski tidak secepat motor, sepeda kayu memberinya kebebasan dari ketergantungan pada BBM.

Di balik keputusan itu, ada strategi sederhana. Yaitu menghemat. Tanpa perlu membeli bahan bakar, pengeluaran harian bisa ditekan. Waktu yang biasanya habis untuk mengantre di SPBU kini bisa digunakan untuk berjualan lebih lama atau beristirahat.

Namun tantangan tetap ada. Berjualan dengan sepeda membutuhkan tenaga ekstra. Dodi harus pandai mengatur ritme agar tidak kelelahan. Karena itu, ia memilih untuk membagi waktu kerjanya menjadi dua sesi.

Di tengah keterbatasan tersebut, Dodi tidak berhenti berinovasi. Ia memilih membuat sendiri es krim yang dijualnya. Keputusan ini bukan hanya soal menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga kualitas. “Kalau bikin sendiri, walau sempat meleleh, bisa beku lagi. Kalau pabrik, ditutup tetap meleleh,” jelasnya.

Baginya, kualitas adalah kunci agar pelanggan tetap datang kembali.

Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong. Mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 10.000, es krim Dodi bisa dinikmati berbagai kalangan. Bahkan ia tidak menutup pintu bagi pembeli dengan uang terbatas. “Kadang ada yang cuma Rp 2.000. Tetap saya layani,” katanya.

Di era digital seperti sekarang, Dodi juga tidak ketinggalan. Ia menyediakan metode pembayaran QRIS untuk memudahkan transaksi. “Sekarang orang banyak yang tidak bawa uang cash, jadi pakai QRIS saja. Tidak ada admin juga,” ujarnya.

Langkah kecil ini ternyata berdampak besar. Pembeli yang tidak membawa uang tunai tetap bisa bertransaksi, sehingga peluang penjualan tidak hilang begitu saja.

Dalam sehari, Dodi mampu meraih penghasilan sekitar Rp 250.000 hingga Rp 300.000. Angka yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kurang lebih segitu sehari,” ucapnya.

Perjalanan Dodi tidak selalu mulus. Sebelum berjualan es krim, ia sempat mencoba peruntungan dengan menjual roti. Namun, usaha tersebut tidak bertahan lama karena tingginya persaingan. “Dulu jualan roti, tapi banyak yang jual juga, jadi sepi,” kenangnya.

Berbeda dengan es krim yang ia jajakan sekarang. Dengan konsep berkeliling menggunakan sepeda, ia justru menemukan ceruk pasar yang belum banyak digarap. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri.

Di tengah krisis BBM, keputusan Dodi beralih ke sepeda kayuh justru terasa tepat. Ia tidak lagi bergantung pada bahan bakar yang sulit didapat. “Bersyukur juga, pas momennya pakai sepeda. Minyak susah, jadi tidak apa-apa,” katanya.

Kisah Dodi adalah potret kecil dari dampak besar antrean BBM terhadap kehidupan masyarakat. Bukan hanya soal kendaraan yang mengular di SPBU, tetapi juga bagaimana kondisi tersebut memaksa orang untuk beradaptasi.

Di balik kayuhan sepedanya, ada semangat untuk terus bertahan. Ada upaya untuk mencari jalan di tengah keterbatasan. Dan yang terpenting, ada harapan yang terus bergerak maju.

Setiap kayuhan bukan sekadar perjalanan menjajakan es krim, melainkan simbol ketangguhan. Di tengah antrean panjang BBM, Dodi memilih jalan berbeda mengayuh harapan, satu putaran roda dalam satu waktu. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *