Kotawaringin Timur

Distan Kotim Waspadai Ancaman Kekeringan

111
×

Distan Kotim Waspadai Ancaman Kekeringan

Sebarkan artikel ini
PANEN : Petani di Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotim saat panen hasil pertanian, beberapa waktu lalu. FOTO WARGA UNTUK RADAR KALTENG

Dua Sentra Pangan di Teluk Sampit dan MHS Jadi Sorotan

SAMPIT – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap potensi terganggunya ketahanan pangan akibat ancaman kekeringan yang diprediksi melanda pada musim kemarau tahun ini.

‎Perhatian utama tertuju pada dua kecamatan yang selama ini menjadi lumbung pangan Kotim. Yakni Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan (MHS). Kedua wilayah tersebut dinilai memiliki kontribusi besar terhadap produksi padi, namun juga sangat rentan terhadap krisis air.

‎Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kotim Yulita menyebutkan, dari total 17 kecamatan di Kotim, dua wilayah tersebut menjadi prioritas pengawasan karena luas lahan dan potensi produksinya yang signifikan.

“Teluk Sampit memiliki luas lahan sawah sekitar 8.565 hektare dengan potensi produksi mencapai 36.615 ton gabah kering panen. Sementara Mentaya Hilir Selatan memiliki luas sekitar 765 hektare dengan potensi produksi 287 ton,” ujarnya, Kamis (9/4/2026) lalu.

‎Menurut dia, tanpa penanganan serius, kekeringan berisiko menurunkan produktivitas bahkan mengancam pasokan pangan daerah. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menjaga stabilitas produksi.

‎Yulita menjelaskan, terdapat dua pendekatan utama yang disiapkan, yakni penguatan infrastruktur air dan penerapan teknik budidaya adaptif yang menyesuaikan kondisi iklim. “Kami fokus pada pembangunan infrastruktur air serta mendorong petani menerapkan teknik budidaya yang adaptif terhadap perubahan cuaca,” tegasnya.

‎Dalam hal penyediaan air, Dinas Pertanian mengoptimalkan berbagai alternatif, seperti pompanisasi untuk mengalirkan air dari sumber terdekat, pemanfaatan sumur bor sebagai cadangan air tanah, hingga pembangunan embung untuk menampung air hujan.

“Pompanisasi kami sesuaikan dengan kondisi lapangan, termasuk jarak hisap air. Selain itu, sumur bor dan embung juga terus kami dorong sebagai solusi jangka menengah menghadapi kekeringan,” jelasnya.

‎Sementara itu, teknik budidaya adaptif menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas pertanian di tengah ketidakpastian iklim. Metode ini mencakup penyesuaian pola tanam, pemilihan varietas tahan kekeringan, serta pengelolaan lahan yang lebih efisien.

‎Selain intervensi teknis, pembinaan kepada petani juga terus dilakukan, khususnya di wilayah sentra pangan. Hal ini bertujuan agar strategi adaptasi dapat diterapkan secara optimal di lapangan.

“Kami sudah melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada petani. Namun implementasi di lapangan membutuhkan waktu serta dukungan dari berbagai pihak,” tandasnya. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *