PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mulai memperketat kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya masa pancaroba yang rawan memicu bencana.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi menyebutkan, cuaca yang tidak menentu saat ini menjadi sinyal awal meningkatnya risiko karhutla. Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Palangka Raya diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada pekan ketiga April 2026.
“Meski masih terjadi hujan, kita sudah berada di masa transisi. Potensi kebakaran tetap harus diantisipasi sejak dini,” ucapnya, Rabu (8/4/2026).
Menghadapi situasi tersebut, BPBD bersama pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah pencegahan. Termasuk pembentukan pos lapangan (poslap) di wilayah rawan. Sedikitnya 21 kelurahan di Palangka Raya telah dipetakan sebagai wilayah rawan karhutla.
“Kami sudah mengidentifikasi wilayah rawan. Nantinya juga akan ditetapkan status siaga darurat untuk mengantisipasi musim kemarau,” tambahnya.
Hendrikus menegaskan, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menjadi bahan evaluasi penting. Dua tahun lalu, Palangka Raya mengalami fenomena kemarau basah, di mana hujan masih turun meski telah memasuki musim kemarau. Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan terjadi pada tahun ini.
Memasuki musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih panjang dan kering, risiko kebakaran dinilai semakin tinggi, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Kondisi ini membuka potensi kerugian besar, baik dari sisi lingkungan maupun kesehatan masyarakat akibat kabut asap.
Sebagai langkah konkret, BPBD mengerahkan patroli rutin bersama relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta aparat kelurahan, TNI, dan Polri. Patroli ini tidak hanya memantau potensi titik api, tetapi juga memberikan peringatan langsung kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
Analis Kebencanaan BPBD Kota Palangka Raya Balap Sipet menambahkan pihaknya telah menyiapkan sekitar 30 poslap yang tersebar di seluruh kelurahan. Selain itu, koordinasi dengan instansi terkait juga dilakukan, termasuk rencana pembangunan embung bersama dinas teknis sebagai sumber air pemadaman, guna memperkuat pencegahan dan meminimalkan potensi karhutla.
“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Upaya pencegahan ini penting karena apabila lahan, khususnya lahan gambut, sudah terbakar maka akan sulit dipadamkan,” ungkap Balap. (ter/ens)












