Bupati Nurhidayah Serahkan 300 Geobag ke Keraya dan Bogam
PANGKALAN BUN – Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menyerahkan 300 geobag yang disalurkan untuk dua desa di wilayah pesisir Kumai. Yakni 100 buah di Desa Keraya dan 200 buah di Desa Bogam. Bantuan meterial ini diberikan sebagai tindak lanjut dari permohonan kedua desa guna penanganan darurat abrasi di wilayah pantai Kumai.
Geobag adalah kantong atau wadah yang terbuat dari material geotekstil woven atau non-woven yang kuat dan tahan lama. Fungsinya sebagai solusi penahan tanah dan erosi dengan mengisi tanah atau pasir ke dalamnya. Geobag sering digunakan dalam proyek teknik sipil, seperti pelindung pantai (breakwater), tanggul sungai, dan stabilitas.
Adapun material geobag berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Palangka Raya. Pengambilan material melalui gudang di Kuala Kapuas, kemudian didistribusikan menuju Pangkalan Bun hingga tiba di lokasi pada Kamis (9/4/2026).
Bupati mengatakan, pemerintah daerah berupaya merespons cepat kondisi abrasi yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi mengancam permukiman warga maupun infrastruktur desa di daerah itu. Geobag hadir guna mengurangi dampak gelombang laut yang terus menggerus garis pantai di kedua desa tersebut.
“Bantuan geobag ini adalah langkah penanganan darurat yang sangat krusial. Walau perlindungan sementara, alat ini mampu meredam energi ombak dan menahan laju abrasi di titik-titik yang rawan,” ujarnya.
Tidak hanya penanganan jangka pendek, Nurhidayah menyampaikan, pihaknya tetap berupaya menjalin koordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk BNPB dalam rangka penanganan bencana yang lebih komprehensif.
“Kami masih akan terus melakukan pemantauan sembari mencari solusi jangka panjang, demi melindungi lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir,” imbuhnya.
Bupati juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pemasangan dan perawatan geobag. Dia minta agar seluruh pihak terlibat aktif, baik saat pengisian dan penyusunan geobag di lokasi yang ditentukan.
“Geobag hanyalah benda mati. Ia baru akan berfungsi maksimal jika diiringi dengan semangat gotong royong. Maka jadikan ini sebagai simbol persatuan kita dalam menjaga kampung halaman,” ungkapnya.
Bupati juga mengajak masyarakat aktif merawat ekosistem pesisir, seperti menciptakan dan menjaga kelestarian mangrove, serta tidak membuang sampah sembarangan. Dia mengingatkan upaya penanganan abrasi tidak cukup hanya mengandalkan solusi fisik semata, tetapi harus diimbangi dengan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. (fit/ens)












