Lonjakan Harga Plastik Jerat Pedagang dan UMKM di Sampit
Di antara hiruk pikuk aktivitas perdagangan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), ada kegelisahan yang kini diam-diam menggerus denyut usaha kecil. Bukan karena sepinya pembeli semata, melainkan lonjakan harga plastik yang perlahan menekan ruang gerak para pedagang, dari kios pasar hingga lapak minuman di pinggir jalan.
SINDY APRIANSYAH, Sampit
NANING, salah seorang pedagang plastik di Sampit, mengaku tak lagi berani menyimpan stok dalam jumlah besar. Bukan tanpa alasan. Harga yang terus merangkak naik membuat setiap lembar plastik seakan menyimpan risiko kerugian.
Kenaikan harga ini tidak datang tiba-tiba. Ia mulai terasa sejak pertengahan Ramadan 1447 Hijriah, saat aktivitas ekonomi sedang tinggi. Namun selepas Lebaran, lonjakannya kian tajam. Bahkan terjadi berulang kali dalam waktu singkat. Dalam hitungan minggu, harga beberapa jenis plastik melonjak hingga dua kali lipat.
Plastik kemasan es, misalnya, yang sebelumnya dijual sekitar Rp 35.000 per pak, kini mencapai Rp 55.000. Kenaikan yang tampak sederhana di atas kertas itu justru menjadi beban berat bagi pedagang kecil yang bergantung pada perputaran cepat barang.
“Kalau dulu masih bisa ambil banyak, sekarang harus benar-benar dihitung. Harga dari distributor sudah naik duluan,” ujar Naning saat diwawancarai, Senin (6/4/2026).
Tak hanya itu, plastik cup minuman yang menjadi tulang punggung banyak pelaku usaha minuman juga ikut terdongkrak harganya. Dari Rp 320.000 menjadi Rp 465.000 per dus. Sementara plastik kantong barang bahkan mengalami kenaikan hingga 100 persen. Tergantung kualitas dan kejernihannya.
Di balik angka-angka tersebut, ada perubahan pola dagang yang tak kalah signifikan. Sistem pembayaran tempo yang dulu memberi kelonggaran kini mulai ditinggalkan. Distributor beralih ke sistem pre order, dengan pembayaran di muka. Bagi pedagang kecil, perubahan ini bukan sekadar teknis, melainkan tekanan tambahan terhadap arus kas yang sudah terbatas.
Situasi ini juga memaksa pedagang mengambil langkah defensif, seperti mengurangi stok. Bagi Naning, hal tersebut dilakukan agar usahanya tetap berjalan lebih penting daripada mengejar volume penjualan yang berisiko.
Bahkan dampaknya sangat terasa. Omzet menurun, perputaran barang melambat, dan ketidakpastian pasar semakin membayangi. Pedagang kini berada dalam posisi serba sulit antara mempertahankan harga demi pelanggan atau menyesuaikan harga agar tidak merugi.
Di sisi lain, tekanan itu menjalar hingga pelaku usaha mikro. Di sekitar Taman Kota Sampit, Siti, pedagang es teh, merasakan langsung efek domino dari kenaikan harga plastik cup. Setiap gelas yang ia sajikan kini memiliki biaya produksi lebih tinggi. Sementara harga jual tak mudah dinaikkan.
Ia memilih bertahan dengan mengurangi margin keuntungan, meski konsekuensinya keuntungan semakin menipis. “Kalau harga dinaikkan, takut pembeli pergi. Tapi kalau tidak, kami yang tertekan,” ungkapnya.
Di tengah kondisi ini, hubungan antara pedagang dan pembeli pun diuji. Tidak sedikit pelanggan yang terkejut melihat harga yang berubah. Sebagian bahkan sempat mencurigai pedagang menaikkan harga secara sepihak. Namun bagi Lyan, situasi ini adalah realitas rantai pasok yang tak bisa dihindari.
Ia masih berusaha menjaga kepercayaan pelanggan dengan menjual sisa stok lama dengan harga sebelumnya. Namun ia sadar, itu hanya solusi sementara. Ketika stok lama habis, harga baru akan menjadi kenyataan yang harus diterima semua pihak.
Kenaikan harga plastik mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana. Namun di baliknya, tersimpan cerita tentang ketahanan usaha kecil, tentang strategi bertahan di tengah ketidakpastian, dan tentang keseimbangan rapuh antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.
Di Sampit, plastik bukan lagi sekadar kemasan. Ia telah menjadi simbol tekanan ekonomi yang dirasakan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. (pri/ens)












