PANGKALAN BUN – Kabar duka datang dari dunia konservasi. Tokoh yang sangat dekat dengan hutan Kalimantan, Prof. Dr. Birute Marija Filomena Galdikas atau Birute Mary Galdikas, dikabarkan wafat di usianya yang ke-79 tahun. Beliau diketahui meninggal dunia usai berjuang melawan kanker dan fibrosis paru yang dirawat di sebuah Rumah Sakit Los Angeles, California, Amerika Serikat, Selasa (24/3/2026) pukul 04.30 dini hari
waktu setempat.
Wanita kelahiran 10 Mei 1946 di Wiesbaden, Jerman ini, selama lebih dari lima dekade mendedikasikan hidupnya dalam penelitian dan pelestarian orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Sosoknya dikenal luas sebagai pendiri Orangutan Foundation International (OFI) sejak tahun 1986.
Organisasi itu didirikannya dengan fokus mendukung konservasi, perlindungan, dan rehabilitasi orangutan, serta habitat alaminya, terutama di wilayah Kalimantan. Kehadirannya berhasil membawa perhatian dunia terhadap keberadaan orangutan dan pentingnya menjaga ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia.
Jauh ke belakang pada tahun 1971, ia adalah salah satu dari tiga ilmuwan perempuan yang dipilih oleh Louis Leakey untuk mempelajari kera besar di habitat aslinya. Hasil penelitiannya sukses membuahkan rujukan penting dalam ilmu primatologi hingga menjadikannya disebut Primatolog terkemuka.
Mendiang juga merupakan wanita hebat dibalik ditetapkannya Tanjung Puting sebagai kawasan konservasi taman nasional yang kini terangkat ke panggung dunia. Melalui OFI, beliau banyak menghabiskan waktunya tanpa lelah demi menyelamatkan ratusan hingga ribuan orangutan dan berjuang melestarikan habitatnya.
Bagi masyarakat Kalimantan, nama Birute Galdikas bukanlah ilmuwan biasa atau sekadar aktivis konservasi dan pakar orangutan. Kepedulian yang begitu besar kepada satwa endemik Kalimantan bahkan membuatnya pantas dijuluki “Mother Of Orangutan” (Ibu Orangutan, red).
Di detik ini, kepergiannya masih menyisakan duka yang mendalam. Ucapan belasungkawa mengalir deras dari masyarakat penjuru dunia yang mencintainya. Jasa mulia Birute Galdikas pun diakui Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Raja Juli Antoni yang turut mengenang kepergiannya.
“Bila hari ini Taman Nasional Tanjung Puting terlihat indah terjaga dengan orangutan membuat anda berdecak kagum, maka tanpa terlihat anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi, selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan awal tahun 70-an,” ujar Menhut dalam keterangan tertulisnya.
Disampaikan pula wasiat bahwasannya, mendiang berkeinginan dimakamkan di tanah Dayak berdampingan dengan pusara suaminya, Pak Bohap bin Jalan, pada tahun 2022 silam lebih dulu berpulang.
“Mengingat wasiat yang disampaikan putranya, Fred Galdikas, saya kembali mengkonfirmasi apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Dia lantas membenarkan dan segera mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA ke Jakarta,” ungkap Raja.
Hari ini, dunia mungkin telah kehilangan sosok besar, namun warisan perjuangannya akan terus hidup. Gelar pendidikan, perjalanan riset demi riset dan advokasi, serta pengakuan prestasi mengakhiri sosok Birute Galdikas ke tempat perabadian, meninggalkan jejak yang tak akan pernah ikut terkubur. (fit)












