Kalimantan TengahUtama

18 Kasus Campak Terdata di Kotim

441
×

18 Kasus Campak Terdata di Kotim

Sebarkan artikel ini
Nugroho Kuncoro Yudho

Tapi Belum Masuk Kategori Waspada Tinggi

‎‎‎SAMPIT – Tren peningkatan kasus campak yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia belum berdampak signifikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memastikan kondisi masih dalam kategori terkendali, meski sejak awal tahun 2026 telah ditemukan puluhan kasus suspek di daerah itu.

‎‎Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho menjelaskan, hingga pekan ke-10 tahun 2026 tercatat ada 18 kasus suspek campak. Namun angka tersebut dinilai masih dalam batas aman dan belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.

“Secara umum situasi di Kotim masih stabil. Memang secara nasional ada kecenderungan peningkatan. Tetapi di daerah kita belum terlihat kenaikan yang signifikan,” katanya, Rabu (25/3/2026).

Nugroho merinci, kasus suspek tersebut tersebar di tiga kecamatan. Yakni Mentawa Baru Ketapang empat kasus, Baamang enam kasus, dan Kecamatan Cempaga ada delapan kasus campak.

‎Meski demikian, Dinkes Kotim tidak lengah. Berbagai langkah antisipasi terus diperkuat guna mencegah potensi penyebaran lebih luas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menindaklanjuti surat edaran dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan sebagai pedoman bagi seluruh fasilitas layanan kesehatan, khususnya puskesmas.

“Surat edaran ini menjadi panduan dalam meningkatkan kewaspadaan serta langkah pencegahan jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan kasus atau kejadian luar biasa,” jelasnya.

‎Di sisi lain, masyarakat diminta berperan aktif dalam upaya pencegahan. Orang tua diimbau memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) sesuai jadwal, yakni sebelum usia satu tahun, dilanjutkan pada usia 1,5 tahun dan 7 tahun.

‎Selain imunisasi, pola hidup bersih dan sehat juga menjadi kunci penting. Masyarakat diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi, serta menghindari kontak langsung dengan penderita campak guna memutus rantai penularan.

“Bagi yang terpapar, sebaiknya menghindari kontak dengan ibu hamil dan diberikan vitamin A untuk membantu proses penyembuhan,” tandas Nugroho. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *