PALANGKA RAYA – Di balik julukan Kota Cantik, Palangka Raya justru mencatat angka kasus HIV tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Dari 487 temuan Orang Dengan HIV (ODHIV) baru di provinsi ini, 125 kasus atau 25,67 persen berasal dari kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng menunjukkan Palangka Raya menjadi wilayah dengan jumlah kasus LSL tertinggi. Mencapai 68 orang. Di sisi lain, fenomena sosial juga mulai terlihat di ruang digital, di mana sebagian pria yang dikenal dengan sebutan “boti” semakin berani menampilkan gaya gemulai di media sosial dan menarik perhatian publik.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Riza Syahputra mengatakan, secara keseluruhan tren kasus HIV/AIDS di Kalteng dalam beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi. “Pada tahun 2021 tercatat sebanyak 264 kasus, kemudian meningkat menjadi 387 kasus pada 2022. Angka tersebut kembali melonjak menjadi 539 kasus pada 2023,” katanya, Minggu (15/3/26).
Pada tahun berikutnya, jumlah kasus mulai menurun. Tahun 2024 tercatat 419 kasus. Sedangkan pada tahun 2025 jumlahnya kembali turun menjadi 414 kasus.
Meski demikian, dari seluruh temuan kasus HIV baru tersebut, kelompok LSL masih menjadi salah satu kontributor terbesar dalam penularan HIV di Kalteng. Yakni sekitar 25 persen dari total kasus.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, persentase kasus HIV dari kelompok LSL di beberapa kabupaten kota di Kalteng menunjukkan variasi yang cukup besar. Kota Palangka Raya menempati posisi tertinggi dengan 40 persen, disusul Kabupaten Kapuas 33 persen dan Kotawaringin Timur 29 persen.
Sementara beberapa daerah lain mencatat angka yang lebih rendah. Seperti Barito Utara 20 persen, Sukamara 22 persen, Gunung Mas 15 persen, Murung Raya 16 persen, Kotawaringin Barat 11 persen, Lamandau 13 persen, dan Katingan 8 persen. Bahkan terdapat daerah yang belum menemukan kasus HIV dari kelompok LSL. Seperti Barito Timur, Pulang Pisau, dan Seruyan.
Menurut Riza, Dinas Kesehatan selama ini terus menjalankan berbagai program pencegahan HIV. Terutama bagi kelompok populasi berisiko. Upaya tersebut dilakukan secara tidak langsung melalui penyediaan dan distribusi alat rapid test serta kondom ke berbagai fasilitas layanan kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan klinik.
Selain itu, program pencegahan melalui penggunaan obat profilaksis sebelum terpapar HIV atau Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) juga menjadi salah satu langkah utama dalam menekan penularan HIV pada kelompok berisiko, termasuk LSL. “Dinas Kesehatan Provinsi (Kalteng) maupun kabupaten kota memiliki tugas dalam penyediaan serta distribusi program tersebut,” jelasnya.
Meski berbagai program telah dijalankan, Riza mengakui, menjangkau kelompok LSL bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah adalah bagaimana memastikan program pencegahan dapat menjangkau populasi kunci yang cenderung tertutup.
Karena itu, upaya penanggulangan HIV di Kalteng tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Diperlukan dukungan dari kelompok masyarakat, termasuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), rekan penjangkau, serta komunitas peduli HIV/AIDS agar program pencegahan dapat berjalan lebih efektif. (ifa/ens)
Kasus HIV, 25 % Peyumbang Terbesar adalah LSL :
1. Barito Utara : 20 %
2. Barito Timur : 0 %
3. Barito Utara : 16 %
4. Gunung Mas : 15 %
5. Kapuas : 33 %
6. Katingan : 8 %
7. Palangka Raya : 40 %
8. Kotawaringin Barat : 11 %
9. Kotawaringin Timur : 29 %
10. Lamandau : 13 %
11. Murung Raya : 16 %
12. Pulang Pisau : 0 %
13. Seruyan : 0 %
14. Sukamara : 22 %












