International

Vladimir Putin Desak Donald Trump Segera Hentikan Perang Iran, Kremlin Ungkap Ada Proposal Perdamaian Cepat

187
×

Vladimir Putin Desak Donald Trump Segera Hentikan Perang Iran, Kremlin Ungkap Ada Proposal Perdamaian Cepat

Sebarkan artikel ini
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Al-Jazeera)

Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin untuk membahas konflik yang tengah berlangsung di Iran.

Dalam pembicaraan tersebut, Putin menyampaikan sejumlah proposal untuk mendorong penyelesaian cepat atas perang yang semakin memanas.

Mengutip The Jerusalem Post, informasi itu disampaikan oleh penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, kepada para wartawan. Ia mengatakan Putin membagikan gagasan terkait kemungkinan langkah-langkah yang dapat diambil guna mengakhiri konflik Iran dalam waktu relatif singkat.

Selain membahas perang di Iran, kedua pemimpin juga menyinggung perkembangan Perang Rusia-Ukraina serta situasi politik di Venezuela yang dinilai berkaitan dengan kondisi pasar energi global.

Putin Peringatkan Risiko Krisis Energi Dunia

Sebelumnya pada hari yang sama, Putin memperingatkan bahwa perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi memicu krisis energi global.

Menurutnya, produksi minyak dunia yang bergantung pada jalur distribusi melalui Selat Hormuz dapat terancam berhenti jika konflik terus meningkat. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute pengiriman energi paling penting di dunia.

Putin menilai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dapat berdampak besar terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

Rusia Tawarkan Kerja Sama Energi Lagi ke Eropa

Dalam pernyataannya, Putin juga menegaskan bahwa Rusia siap kembali bekerja sama dengan pelanggan energi di Eropa apabila negara-negara tersebut ingin memulihkan hubungan jangka panjang di sektor energi.

Rusia sendiri merupakan eksportir minyak terbesar kedua di dunia dan negara dengan cadangan gas alam terbesar. Namun, hubungan energi dengan negara Barat memburuk setelah pecahnya perang di Ukraina.

Selama empat tahun terakhir, negara-negara Barat secara signifikan mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan gas Rusia sebagai respons atas invasi Moskow ke Ukraina serta sanksi yang dijatuhkan oleh Uni Eropa dan negara-negara G7.

Akibat kehilangan pasar utama di Eropa, Rusia terpaksa menjual minyak dan gasnya dengan diskon besar ke negara-negara di Asia.

AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Minyak Rusia

Di tengah lonjakan harga energi global, pemerintahan Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan pelonggaran lebih lanjut terhadap sanksi minyak Rusia. Langkah ini disebut-sebut bertujuan untuk meredam kenaikan harga energi dunia.

Namun kebijakan tersebut berpotensi mempersulit upaya Amerika Serikat untuk membatasi pendapatan Rusia yang digunakan dalam perang di Ukraina.

Di sisi lain, laporan media juga menyebut Rusia diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran untuk menargetkan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurut laporan tersebut, Rusia disebut memberikan informasi mengenai lokasi aset militer Amerika, termasuk kapal perang dan pesawat, sejak pecahnya konflik.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik yang melibatkan Iran semakin kompleks dan berpotensi memperluas ketegangan geopolitik global.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Sumber : jawapos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *