Terowongan Nur Mentaya Jadi Spot Favorit Warga Sampit
Suasana berbeda terlihat di kawasan Terowongan Nur Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) setiap sore selama bulan Ramadan. Jika biasanya area tersebut hanya dilintasi kendaraan, kini lokasi itu berubah menjadi tempat favorit warga untuk berolahraga. Khususnya lari santai menjelang waktu berbuka puasa.
SINDY APRIANSYAH, Sampit
SELAMA Ramadan 1447 Hijriah, deretan warga dari berbagai kalangan terlihat di sekitar terowongan itu. Mulai anak muda, komunitas pelari, hingga orang tua terlihat memanfaatkan waktu menjelang magrib untuk berolahraga ringan sambil menunggu waktu berbuka di Terowongan Nur Mentaya yang menjadi salah satu ikon kebanggaan Kota Sampit.
Salah seorang warga Sampit, Rizky, mengaku hampir setiap sore datang ke lokasi tersebut untuk berlari. Menurutnya, Terowongan Nur Mentaya cukup nyaman dijadikan tempat olahraga karena jalurnya relatif lurus dan suasananya ramai. “Kalau Ramadan biasanya saya lari sore di sini. Tempatnya ramai, jadi lebih semangat. Selain itu juga sekalian menunggu waktu berbuka puasa,” ujarnya, Senin sore (9/3/2026).
Rizky mengatakan, dalam satu kali sesi lari ia biasanya menempuh jarak sekitar dua hingga tiga kilometer. Aktivitas tersebut dinilai cukup untuk menjaga kebugaran tubuh tanpa membuat tubuh terlalu lelah saat menjalankan ibadah puasa.
Hal serupa juga diungkapkan warga lainnya, Rahma. Ia menyebut kawasan Terowongan Nur Mentaya kini seperti menjadi ruang publik baru bagi masyarakat Sampit yang ingin berolahraga ringan di bulan Ramadan. “Biasanya habis lari, kami duduk santai sebentar sambil menunggu azan magrib. Kadang juga sekalian beli takjil di sekitar sini,” katanya.
Tak hanya pelari, sejumlah warga juga memanfaatkan area tersebut untuk berjalan santai, bersepeda, hingga sekadar berkumpul bersama keluarga. Kehadiran pedagang takjil di sekitar kawasan itu juga menambah semarak suasana sore hari di lokasi tersebut.
Menjelang azan magrib, suasana semakin ramai. Warga yang berolahraga mulai memperlambat langkah mereka. Sementara sebagian lainnya memilih duduk di sekitar terowongan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Fenomena ini menjadikan Terowongan Nur Mentaya tidak hanya sekadar jalur penghubung, tapi juga ruang interaksi baru bagi masyarakat Sampit. Selama Ramadan, tempat tersebut seakan berubah menjadi arena olahraga terbuka yang mempertemukan warga untuk berbagi aktivitas sehat sekaligus merasakan kebersamaan di bulan penuh berkah. (pri/ens)












