Barito Utara Pernah Mencatat KLB Tahun 2025
PALANGKA RAYA – Indonesia dilaporkan menempati peringkat kedua tertinggi di dunia jumlah kasus campak pada awal Maret 2026. Kondisi tersebut membuat pemerintah provinsi (pemprov), termasuk di Kalimantan Tengah (Kalteng) meningkatkan kewaspadaan serta mendorong kembali cakupan imunisasi pada anak.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Suyuti Syamsul mengatakan, meskipun secara nasional kasus campak meningkat, situasi di wilayah Kalteng masih dalam kondisi terkendali. “Kalau di Kalteng sendiri, kita tidak pernah kejadian luar biasa (KLB). Artinya kalau tidak pernah KLB, ya kasus itu selalu ada tetapi masih dalam batas yang terkendali,” katanya di Palangka Raya, Minggu (8/3/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalteng, pada 2025 tercatat 77 kasus campak dengan hasil laboratorium positif. Kasus tersebut tersebar di sejumlah kabupaten. Dengan jumlah tertinggi berada di Kotawaringin Timur 19 kasus, disusul Kotawaringin Barat dan Barito Utara masing-masing 17 kasus.
Sementara hingga Maret 2026, tercatat empat kasus campak di Kalteng. Yakni dua kasus di Kapuas, satu di Kotawaringin Barat, dan satu kasus lagi di Kabupaten Pulang Pisau. Hingga saat ini belum ada kabupaten yang menetapkan status kejadian luar biasa campak.
Pada tahun 2025, penetapan KLB sempat dilakukan Kabupaten Barito Utara melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan setempat. Penanganan kemudian dilakukan melalui program Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah.
Suyuti menjelaskan, campak tergolong sangat mudah menular karena penyebarannya melalui saluran pernapasan. Risiko penularan biasanya lebih tinggi di wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas kerumunan yang tinggi.
“Prinsipnya menular melalui napas. Jadi semakin banyak orang berkerumun, semakin besar kemungkinan yang akan tertular. Dengan demikian biasanya di lokasi yang padat potensi kasusnya lebih besar,” ungkapnya.
Meski sebagian besar penderita campak dapat sembuh dengan sendirinya, penyakit ini tetap berisiko menimbulkan komplikasi, terutama pada anak dengan kondisi gizi kurang atau memiliki penyakit penyerta.
“Kalau pengobatan sebenarnya bisa sembuh sendiri. Biasanya hanya diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Tapi kalau anaknya kurang gizi atau ada penyakit lain, itu bisa menjadi berat,” jelasnya.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan mencatat adanya penurunan cakupan imunisasi campak di sejumlah daerah di Kalteng. Beberapa wilayah bahkan masih berada di bawah target nasional, seperti Kapuas dengan cakupan 58,4 persen, Barito Selatan 62 persen, Barito Timur 62,5 persen, serta Murung Raya yang hanya mencapai sekitar 37 persen.
Menurut Suyuti, salah satu faktor yang memengaruhi menurunnya cakupan imunisasi adalah maraknya informasi yang menolak vaksinasi atau gerakan anti-vaksin di masyarakat.
“Masalahnya itu karena kelompok anti-vaksin benar-benar luar biasa. Dulu kasus campak sangat rendah karena vaksinasi dan imunisasi kita bisa sampai 90 sampai 95 persen. Sekarang rata-ratanya sekitar 70 persen,” ujarnya.
Ia menilai perubahan pola penyebaran informasi di masyarakat juga turut memengaruhi cara pandang sebagian orang terhadap program imunisasi. “Kalau dulu informasinya hanya satu arah, sekarang dari mana-mana. Isu anti-vaksin itu luar biasa sehingga terjadi penurunan cakupan imunisasi,” katanya.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Kalteng terus mendorong masyarakat agar tetap melaksanakan imunisasi sebagai langkah pencegahan utama terhadap penyakit campak, khususnya pada anak-anak. Pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi dapat kembali meningkat guna menjaga kekebalan kelompok di masyarakat. (ifa/ens)
Cakupan Imunisasi Campak di Kalteng Tahun 2025:
1. Sukamara : 105,1 %
2. Lamandau. : 87 %
3. Seruyan : 69.6 %
4. Kobar : 75,1 %
5. Kotim : 62 %
6. Katingan : 69,9 %
7. Gumas : 92,4 %
8. Pulpis : 69,9 %
9. Kapuas : 58,4 %
10. Bartim : 62,5 %
11. Barsel : 62 %
12. Barito Utara : 64,3 %
13. Mura : 37 %
14. Palangka Raya: 72,9 %
Kasus Campak Hasil Laboratorium Positif Tahun 2025 :
1. Barsel : 0
2. Bartim : 0
3. Barito Utara : 17
4. Gumas : 0
5. Kapuas : 6
6. Katingan : 10
7. Kobar : 17
8. Kotim : 19
9. Lamandau : 0
10. Mura : 0
11. Pulpis : 0
12. Seruyan : 8
13. Sukamara : 0
14. Palangka Raya : 0
Kasus Campak Hasil Laboratorium Positif Tahun 2026:
1. Barsel : 0
2. Bartim : 0
3. Barito Utara : 0
4. Gumas : 0
5. Kapuas : 2
6. Katingan : 0
7. Kobar : 1
8. Kotim : 0
9. Lamandau : 0
10. Mura : 0
11. Pulpis : 1
12. Seruyan : 0
13. Sukamara : 0
14. Palangka Raya : 0












