Masih Didominasi Karhutla
PALANGKA RAYA – Bencana alam masih menjadi ancaman serius di wilayah Kalimantan Tengah. Hingga 11 Desember 2025, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng mencatat 952 bencana terjadi di berbagai daerah di Bumi Tambun Bungai. Sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana yang paling mendominasi.
Data BPB-PK Kalteng menunjukkan, mayoritas kejadian merupakan bencana hidrometeorologi. Yakni karhutla, banjir, dan tanah longsor. Sepanjang tahun ini, tercatat 839 kejadian karhutla, jauh melampaui bencana lainnya. Selain itu, terjadi 71 kejadian banjir, 13 tanah longsor, 27 cuaca ekstrem, serta 2 gempa bumi.
Dampak bencana tersebut tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Sebanyak 308.589 jiwa tercatat terdampak, dengan korban 6 orang meninggal dunia, 2 orang hilang, serta 2 orang mengalami luka-luka.
Kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik pun cukup masif. Sebanyak 79.513 rumah terdampak, disusul 598 rumah ibadah, 165 gedung pemerintah, 622 satuan pendidikan, dan 187 fasilitas kesehatan. Selain itu, 1.616 ruas jalan dan jembatan mengalami kerusakan.
Bencana sepanjang 2025 juga menyebabkan kerusakan hutan dan lahan seluas 1.332.527 hektare, mempertegas karhutla sebagai ancaman utama di wilayah Kalimantan Tengah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng sebelumnya juga menyoroti, bahwa ancaman kali ini tidak hanya dipicu curah hujan musiman, tetapi juga dipengaruhi perubahan iklim global la nina yang kembali menunjukkan penguatan.
Fenomena la nina memberi tekanan tambahan pada daerah-daerah yang selama ini memiliki risiko banjir tinggi. “Kalau sesuai kajian risiko bencana 2022-2026, potensi banjir dan karhutla itu menjadi bencana utama di Kalteng. Terlebih pada akhir tahun yang didominasi oleh banjir,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng Indra Wiratama saat dihubungi, Kamis (11/12/2025) lalu.
Indra mengungkapkan, wilayah utara Kalteng, seperti Barito Utara dan Murung Raya, secara klimatologis hampir tidak mengalami musim kemarau. Karena hujan turun sepanjang tahun. Prediksi BMKG juga kembali menegaskan pola tersebut. “BMKG itu tidak mengenal musim kemarau untuk daerah utara, karena hampir setiap tahun wilayah tersebut berada dalam kondisi musim penghujan,” ucapnya.
Dengan hadirnya la nina meski dalam skala lemah, intensitas hujan diperkirakan meningkat di beberapa kabupaten. Kondisi ini menjadi perhatian serius. Mengingat sebagian sungai besar mulai menunjukkan peningkatan debit air dalam beberapa pekan terakhir.
BPBD Kalteng mencatat, sudah ada dua kabupaten yang menetapkan status siaga banjir. Yakni Kapuas dan Lamandau. Beberapa wilayah lain seperti Kapuas bagian utara dan Kabupaten Gunung Mas juga masuk zona waspada. Daerah-daerah ini memiliki karakter geografis yang mudah tergenang ketika curah hujan mencapai puncak.
Untuk mengantisipasi potensi terburuk, BPBD Kalteng memperkuat sistem peringatan dini dan pemetaan wilayah rawan banjir. Upaya mitigasi juga diperluas melalui koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Selain itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi perhatian utama. BPBD mengimbau masyarakat di daerah aliran sungai dan permukiman rendah untuk mulai melakukan pengecekan jalur evakuasi, mempersiapkan barang penting, dan mengikuti perkembangan informasi cuaca. Dengan kondisi iklim yang semakin tidak menentu, mitigasi dianggap sebagai langkah paling efektif untuk menekan risiko jatuhnya korban dan kerusakan.
Melalui penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan, pemerintah daerah berharap musim penghujan tahun ini dapat dilalui tanpa dampak besar. Namun BPBD mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap harus dijaga hingga puncak musim hujan berlalu pada awal 2025. (ter/ens)












