Kalimantan TengahUtama

Seruyan Kabupaten Termiskin di Kalteng

446
×

Seruyan Kabupaten Termiskin di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Leonard S Ampung
  • Masuk Zona Merah Bersama Mura dan Bartim
  • Sukamara, Palangka Raya dan Lamandau Tingkat Kemiskinan Terendah

PALANGKA RAYA – Tiga kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah masih berada di kategori merah atau memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Bumi Tambun Bungai.

Kabupaten Seruyan menempati posisi pertama dengan persentase kemiskinan 6,72 persen, disusul Murung Raya 6,19 persen, dan Kabupaten Barito Timur 6,10 persen.

Data tersebut berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik(BPS) Kalteng tahun 2025.

Terkait hal itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus berupaya untuk menekan angka kemiskinan melalui penguatan program sosial, pemberdayaan ekonomi, serta pembangunan infrastruktur dasar.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kalteng Leonard S Ampung, kepada awak media, Rabu (5/11/2025).

“Ada beberapa kabupaten yang angkanya masih merah. Artinya, tingkat kemiskinan di wilayah tersebut masih tinggi, dengan pendapatan masyarakat, bahkan di bawah Rp 1 juta per bulan,” kata Leonard, kemarin.

Sebaliknya, daerah dengan tingkat kemiskinan terendah atau kategori hijau adalah Kabupaten Sukamara (4,02 persen), Kota Palangka Raya (3,62 persen), dan Kabupaten Lamandau (3,33 persen).

Leonard menegaskan, data BPS menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam merancang langkah konkret penanggulangan kemiskinan. Salah satu strategi yang ditempuh ialah sinkronisasi program antara pemerintah provinsi dan kabupaten kota, serta penajaman sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya di desil 1 dan desil 2.

“Kita harus hadir dengan program nyata, seperti pasar murah, bantuan sosial, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” jelasnya.

Ia menambahkan, penanggulangan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah perlu menata ulang arah kebijakan agar lebih menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama di pedesaan dan pedalaman.

“Pembangunan yang berhasil bukan diukur dari banyaknya gedung tinggi, tetapi dari seberapa banyak masyarakat yang hidupnya lebih baik,” ungkap mantan ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kalteng itu. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *