Feature

Mandau, Sejarah Perjuangan dan Identitas Daerah

1056
×

Mandau, Sejarah Perjuangan dan Identitas Daerah

Sebarkan artikel ini
PAMERAN: Pj Sekda Kotim Masri (baju biru) bersama Kepala BPK Wilayah III Kalselteng Riris Purbasari (lawung merah) melihat mandau pada Pameran Warisan Budaya Mandau Penyang Pambelum di Museum Kayu Sampit, Jumat (10/10/2025). APRI/RADAR KALTENG

Dari Arena Pameran Warisan Budaya Dayak di Museum Kayu Sampit

Suasana Museum Kayu Sampit Jumat (10/10/2025) dipenuhi rasa kagum. Ratusan mandau berjajar di stan-stan pameran, membuat pengunjung terpikat oleh keindahan bilah dan ukiran khasnya. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semua larut dalam perayaan budaya yang menghadirkan mandau bukan hanya sebagai senjata, tapi juga sebagai simbol identitas Dayak.

SINDY APRIANSYAH, Sampit

PAMERAN Warisan Budaya Mandau Penyang Pambelum yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) ini bukan hanya menampilkan koleksi mandau. Tapi juga mengajak pengunjung menyelami makna di balik setiap bilahnya. Bagi masyarakat Dayak, mandau adalah simbol kehormatan, keberanian, sekaligus identitas yang tak lekang oleh zaman.

“Mandau bukan sekadar pusaka. Ia adalah simbol kekuatan sekaligus kebijaksanaan masyarakat Dayak.

Pemerintah daerah tentu mendukung penuh upaya agar mandau diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO,” kata Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur Masri saat membuka pameran itu, kemarin.

Suasana pameran terasa meriah. Anak-anak antusias mengikuti lomba mewarnai gambar mandau. Sementara seniman lokal menampilkan tarian dan musik tradisional. Di sisi lain, diskusi budaya menghadirkan cerita-cerita kearifan lokal yang memberi pemahaman baru bagi generasi muda tentang filosofi mandau.

Kepala BPK Wilayah III Kalselteng Riris Purbasari menegaskan, pameran ini merupakan langkah penting untuk merawat identitas Dayak. “Di balik setiap bilah mandau tersimpan sejarah perjuangan dan nilai kehidupan. Karena itu, pelestariannya tidak hanya menjaga benda, melainkan menjaga ruh kebudayaan,” katanya.

Menurut Riris, konsep pameran sengaja dibuat interaktif. Workshop seni, talkshow, hingga penampilan sanggar seni menjadi jembatan agar masyarakat merasa lebih dekat dengan pusaka leluhur. 

“Kami ingin menunjukkan bahwa mandau bukan benda mati, melainkan jiwa budaya yang harus terus kita hidupkan,” tambahnya.

Mandau memang memiliki nilai yang lebih dari sekadar senjata tradisional. Ukiran pada gagangnya sarat doa dan harapan. Sementara bilahnya dipercaya menyimpan kisah perjalanan hidup pemiliknya. Tak heran, pelestarian mandau dianggap sebagai bagian dari menjaga harga diri sebuah bangsa.

“Semoga pameran ini menginspirasi masyarakat untuk mencintai warisan leluhur dan mendukung pengusulan mandau sebagai warisan budaya dunia. Dukungan kita semua akan sangat berarti,” ungkap Riris.

Dari Museum Kayu Sampit, ratusan mandau kini tidak hanya dipandang sebagai pusaka lama. Mereka hadir sebagai saksi peradaban, pengingat identitas, sekaligus simbol kebanggaan yang harus terus dijaga di tengah arus modernisasi. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *