Feature

Memperlihatkan Jati Diri Daerah di Mata Dunia

1397
×

Memperlihatkan Jati Diri Daerah di Mata Dunia

Sebarkan artikel ini
MANASAI DI POLANDIA : Guru SMKN 2 Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau Mahiang saat mengajarkan tari manasai dalam program EuroWeek School of Leaders di Polandia, Senin (6/10/2025) lalu. FOTO DOKUMEN UNTUK RADAR KALTENG

Ketika Tari Manasai Diperkenalkan di Polandia

Langkah kaki yang ringan diiringi musik ritmis khas Dayak menyapa sebuah aula sekolah di Polandia. Di hadapan para pelajar Eropa yang antusias, seorang guru asal pelosok Kalimantan Tengah menari sambil mengenakan busana tradisional. Dia membawa pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan. Pesan tentang kehangatan, persaudaraan, dan semangat kebersamaan dari Indonesia.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

DIA adalah Mahiang, guru SMK Negeri 2 Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, sekaligus pengurus APPBIPA Kalimantan Tengah.

Dalam program EuroWeek School of Leaders, Mahiang, memperkenalkan tarian manasai kepada para pelajar Polandia. Manasai merupakan tarian khas masyarakat Dayak Kalteng yang sarat makna dan filosofi hidup.

“Kami merasa bangga dapat memperkenalkan budaya Kalimantan Tengah di hadapan para pelajar Polandia. Melalui tarian manasai, saya ingin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia,

khususnya Kalimantan Tengah, menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, dan keramahan sesuai dengan filosofi huma berang,” kata Mahiang, Senin (6/10/2025).

Sebagai salah satu liaison officer ajang UCI MTB Eliminator World Cup 2022-2024, Mahiang tak asing lagi dengan dunia internasional. Namun kali ini, misi yang diembannya jauh lebih emosional. Yaitu membawa dan memperkenalkan identitas daerahnya kepada dunia.

Tarian manasai bukan sekadar seni gerak. Tapi merupakan representasi nilai-nilai luhur masyarakat Dayak, suka cita, kebersamaan, keterbukaan terhadap tamu, dan semangat hidup dalam harmoni. Ketika para pelajar Polandia diajak ikut menari dalam lingkaran, batas budaya pun seakan melebur.

“Mereka tidak hanya menonton, tapi juga ikut menari. Dari situ terbangun koneksi, bahwa budaya bisa menyatukan meski berasal dari latar yang berbeda,” ungkapnya.

Partisipasi Mahiang dalam EuroWeek menjadi bukti nyata bahwa diplomasi budaya dan kebahasaan Indonesia bisa hadir lewat langkah kecil seorang guru daerah. Kegiatan ini didukung berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Lamandau, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Kalteng, APPBIPA Kalteng, hingga EuroWeek Indonesia.

Mahiang mengapresiasi sejumlah tokoh dan lembaga yang telah memberinya ruang dan dukungan. Di antaranya Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra, Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo, Kepala SMK Negeri 2 Nanga Bulik Toto Subagio dan Bank Kalteng Lamandau.

“Dukungan ini bukan hanya untuk saya pribadi, tapi untuk semangat semua pendidik dan pelajar yang ingin membawa nama baik daerahnya ke panggung dunia,” ujarnya.

Sebagai anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia Kalimantan Tengah, Mahiang juga percaya bahwa memperkenalkan budaya adalah bagian penting dari pendidikan karakter dan identitas.

Dia berharap, apa yang dilakukannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya lokal. “Budaya tidak hanya untuk dikenang, tapi harus terus dihidupkan dan dikenalkan. Dan pendidikan adalah jalan terbaik untuk itu,” tegasnya.

Kini, tarian manasai telah menorehkan jejaknya di Eropa. Namun lebih dari itu, dia menjadi jembatan antarbangsa, menghadirkan Kalteng dalam ruang kelas di Polandia, dan menunjukkan bahwa guru dari pelosok bisa menjadi duta budaya yang mempererat persahabatan global.

Melalui langkah seorang guru, Kalteng berbicara kepada dunia, bahwa dalam setiap gerak tarian dan senyum tulus, Indonesia menyampaikan pesan damai, persatuan, dan kekayaan budaya yang patut dibanggakan. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *