Feature

Pendidikan Gratis, Makan Pun Terjamin

1121
×

Pendidikan Gratis, Makan Pun Terjamin

Sebarkan artikel ini
ASRAMA PUTRI : Suasana pagi di asrama putri Sekolah Rakyat Palangka Raya. Para siswi tampak  santai setelah melakukan serangkaian aktivitas, Rabu (1/10/2025) lalu. FOTO IFA/RADAR KALTENG

Solusi untuk Anak Buruh Lepas di Sekolah Rakyat

Di tengah keterbatasan dan keterjepitan ekonomi, harapan itu ternyata masih bisa tumbuh. Bagi keluarga seperti Ahmad Sohaili dan istrinya Nur Ajijah, pendidikan sempat menjadi mimpi yang terasa semakin jauh sejak sang ayah tak lagi bisa bekerja.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

PINTU itu terbuka kembali melalui program dari Dinas Sosial dan kehadiran sekolah rakyat (SR), sebuah inisiatif pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Anak-anak saya sekarang sekolah gratis. Makan tiga kali sehari. Bahkan ada snack juga. Rasanya benar-benar terbantu. Apalagi saya sudah tidak bisa kerja lagi setelah stroke,” ujar Ahmad Sohaili, ayah dari dua anak yang kini bersekolah di Sekolah Rakyat Palangka Raya, Rabu (1/10/2025).

Di sekolah rakyat, anak-anak tak hanya mendapat akses pendidikan tanpa biaya. Mereka juga dijamin kebutuhan pokok setiap harinya, makan tiga kali dan dua kali snack.

Bagi keluarga seperti Sohaili yang tidak lagi punya penghasilan tetap, hal ini bukan cuma meringankan beban, tapi bisa jadi penyelamat. “Kalau sekolah di tempat lain, nggak sanggup saya. Tapi di sini semuanya sudah ada. Anak bisa belajar, makan pun dijamin,” tambah Sohaili.

Ningsih, ibu dari Krisna kelas 5 SD, yang sebelumnya sekolah di SDN 1 Langkai bercerita, untuk rekrutmen, bermula saat pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari Dinas Sosial datang langsung ke rumah mereka. Pendataan dilakukan menyeluruh. Tidak hanya melihat nama anak yang sudah tercantum dalam sistem, tapi juga mewawancarai langsung orang tua, menanyakan kondisi ekonomi keluarga, dan bahkan melihat langsung kondisi tempat tinggal.

“Waktu itu ditanya, pengeluaran sehari berapa? Rumah kami juga dilihat, karena katanya kalau rumahnya bolong-bolong, nanti bisa dibantu, diperbaiki,” jelasnya.

Tak hanya aspek ekonomi, alasan orang tua memilih sekolah rakyat juga menyentuh hal yang lebih mendalam, nilai karakter. Ningsih berharap, di sekolah rakyat anaknya mendapat pembinaan karakter dan religi.

“Saya nyekolahkan anak saya karena saya ingin dia dibimbing, terutama dalam agama. Katanya di sini ada pembinaan religi, dan itu yang saya cari,” jelasnya.

Dalam proses pendataan, para pendamping PKH sempat menyampaikan bahwa keluarga yang anaknya diterima di sekolah rakyat juga akan mendapat bantuan tambahan. Salah satunya berupa sembako. Meski belum semua janji terealisasi, kehadiran mereka membawa angin segar, bahwa negara atau minimal wakilnya masih hadir di sudut-sudut rumah yang sering terabaikan.

“Katanya kalau rumah kurang layak, bisa dibantu. Ada juga janji sembako untuk orang tua, kami sih menunggu, tapi yang penting sekarang anak-anak bisa sekolah dulu,” paparnya.

Di balik kisah orang tua, tersimpan juga semangat dari anak-anak. Reza Aditya, 11 tahun, kini duduk di kelas 5 dan bercita-cita menjadi TNI. Wajahnya bersinar saat bercerita tentang sekolah barunya. “Senang sekolah di sini. Banyak teman, gurunya baik. Saya mau jadi tentara,” katanya malu-malu.

Sekolah rakyat bukan hanya tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Di tempat ini, anak-anak dari keluarga buruh lepas, rumah bolong-bolong, dan dapur yang tak selalu mengepul, bisa kembali menatap masa depan.

Dan bagi orang tua mereka, ini bukan sekadar soal bantuan. Ini adalah soal kesempatan yang selama ini nyaris tidak pernah mereka miliki, kesempatan untuk mengangkat masa depan keluarga lewat anak-anak mereka.

Di negeri ini, tak semua anak lahir dengan hak yang sama. Lewat program sosial melalui sekolah rakyat, setidaknya anak-anak dari rumah bolong-bolong punya peluang untuk bermimpi dan mencapainya. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *