Lilis, Gadis Asal Danau Seluluk Kembali Mengenakan Seragam Sekolah
Bagi sebagian anak, lulus sekolah menengah pertama (SMP) adalah awal untuk mengenakan seragam sekolah baru, memasuki ruang kelas yang berbeda, dan mulai memikirkan cita-cita. Namun bagi Lilis, kelulusan pada 2025 justru menjadi awal dari penantian panjang.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
DIA ingin melanjutkan sekolah. Dia ingin kembali belajar. Namun ada satu hal yang tidak mampu disiapkan keluarganya. Yaitu biaya.
Hari-hari yang seharusnya diisi dengan buku dan pelajaran, berubah menjadi masa menunggu. Teman-teman seusianya melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas (SMA) maupun sekolah menengah kejuruan (SMK). Sementara seorang gadis bernama Lilis itu harus tinggal di rumah setelah lulus SMP.
Bukan karena dia tidak ingin sekolah. Bukan pula karena dia menyerah pada cita-cita. Keadaan ekonomi keluarga membuat langkahnya terhenti. Hingga setahun lebih, kesempatan itu akhirnya datang.
Pada Minggu (4/10/2026), di Halaman Kantor Kecamatan Danau Seluluk, Kabupaten Seruyan, Lilis bersama ibunya, Nisa, bertemu Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo. Kebetulan saat itu, Reza Prabowo mendampingi Gubernur Agustiar Sabran bersama jajaran memberi bantuan pangan kepada warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di wilayah Kabupaten Seruyan.
Dalam percakapan sederhana itu, terungkap kisah Lilis yang sudah lulus SMP sejak 2025, tapi belum dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah atas.
Reza kemudian memastikan persoalan tersebut segera ditindaklanjuti. “Pesan pak gubernur, jangan takut lagi anak-anak kita tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA. Gubernur bantu ibu. Kita minta datanya supaya nanti hari Senin sudah kita daftarkan sebagai murid,” kata Reza.
Kalimat itu menjadi kabar yang mungkin sudah lama ingin didengar Lilis. Setelah sekian lama hanya bisa melihat anak-anak lain bersekolah, kini dia kembali memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pelajar.
Bahkan Lilis sudah tahu sekolah yang ingin ditujunya. Ia ingin masuk SMK Negeri Hanau. “Saya pengen sekolah di SMKN Hanau. Terima kasih pak gubernur, sudah mau biayain sekolah saya. Terima kasih sudah membuat saya bisa lanjut sekolah,” ucap Lilis penuh haru sambil menahan air mata kebahagiaan.
Ada kebahagiaan sederhana dalam keinginannya. Bukan tentang sekolah yang mewah. Bukan pula tentang sesuatu yang berlebihan. Lilis hanya ingin kembali memakai seragam sekolah, membawa tas, membuka buku, dan duduk di bangku kelas seperti anak-anak seusianya.
Dia menyadari, ada waktu yang telah hilang. “Kalau dari lulus SMP langsung nyambung sekolah mungkin sekarang sudah kelas 2 SMK,” ungkapnya.
Kalimat itu seolah menggambarkan satu tahun yang tidak bisa dikembalikan. Satu tahun ketika seharusnya dia belajar, bertemu teman, mengikuti pelajaran, dan perlahan mendekati cita-citanya.
Namun Lilis tidak ingin terus berhenti di sana. Di sisi lain, sang ibu, Nisa, mengaku pernah kebingungan ketika putrinya menyelesaikan SMP. Keinginan untuk menyekolahkan Lilis tetap ada, tetapi kemampuan ekonomi keluarga tidak memungkinkan. “Kemarin ketika lulus, mau sekolah, tapi tidak ada biayanya. Saya terima kasih sama pak gubernur atas bantuan kepada anak saya untuk sekolah,” ungkap Nisa.
Bantuan yang diterima Lilis pun menjadi bekal awal untuk kembali menata langkah. Dia mendapat bantuan uang tunai dari Gubernur Agustiar Sabran untuk kebutuhan sekolah, termasuk seragam, sepatu, tas dan buku.
Di saat yang sama, Lilis juga menjadi salah satu gambaran bagaimana Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS) diarahkan untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkannya.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden mengatakan, manfaat pendidikan dalam KHBS diberikan bagi anak yang melanjutkan pendidikan pada jenjang SMA, SMK dan SKH, sesuai kewenangan Pemprov Kalteng. “Kalau ada putra-putrinya yang mau sekolah di jenjang SMA, didaftarkan. Nanti dibantu sampai kuliah. Ini adalah program dari Bapak Gubernur Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Bagi Lilis dan keluarganya, kebijakan itu kini terasa lebih dekat. Bukan lagi sekadar program yang tertulis di atas kertas, tetapi menjadi jalan bagi seorang anak untuk kembali ke sekolah.
Setahun terhenti bukan berarti selamanya harus berhenti. Lilis memang kehilangan waktu. Dia mungkin akan duduk di kelas bersama siswa yang usianya berbeda. Tetapi satu hal yang tidak hilang darinya adalah keinginan untuk belajar.
Kini, setelah penantian panjang, Lilis kembali punya tujuan. SMK Negeri Hanau menjadi sekolah yang ingin dia tuju. Seragam kembali menunggunya. Buku-buku kembali akan memenuhi tasnya.
Dan setelah satu tahun kehilangan kesempatan, Lilis akhirnya kembali mendapatkan sesuatu yang paling sederhana sekaligus paling berarti bagi seorang anak untuk bermimpi lagi mengejar cita-cita. (ifa/ens)










