Palangka Raya

10 Sumur Bor Baru Dibangun Atasi Karhutla, Anggaran Rp 3 Juta per Titik

49
×

10 Sumur Bor Baru Dibangun Atasi Karhutla, Anggaran Rp 3 Juta per Titik

Sebarkan artikel ini
Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi.

PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menambah sumber air di sejumlah lokasi rawan.

Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi mengatakan, saat ini terdapat sekitar 10 sumur bor baru tahun 2026 ini yang dibangun untuk mendukung penanganan karhutla.

“Sepuluh sumur bor,” kata Hendrikus, Kamis (24/9/26) malam.

Ia menjelaskan, pembangunan sumur bor tersebut dilakukan secara bertahap dan melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, TNI, Polri, serta Manggala Agni. BPBD juga masih melakukan inventarisasi untuk memastikan jumlah keseluruhan sumur bor yang telah dibangun.

“Kalau dihitung jumlahnya mungkin banyak, karena kami buat, TNI buat, Polri buat, Manggala Agni juga buat. Kita tinggal merekapnya saja nanti,” ujarnya.

Menurut Hendrikus, biaya pembangunan satu titik sumur bor dengan menggunakan pipa berdiameter dua inci kini mencapai sekitar Rp 3 juta. Sebelumnya, biaya tersebut berada di kisaran Rp 2,5 juta per titik.

“Untuk satu titik sebesar tiga juta rupiah. Kalau pipa satu setengah incinya biasanya kisarannya Rp 2 juta,” jelasnya.

Sejumlah sumur bor dibangun untuk menunjang kebutuhan air dalam operasi pemadaman. Salah satunya berada di sekitar lokasi posko, dengan dua titik yang digunakan untuk mengisi embung.

Embung tersebut selanjutnya dimanfaatkan sebagai sumber air untuk pengisian mobil tangki yang dikerahkan dalam penanganan karhutla.

Selain itu, pembangunan sumur bor juga dilakukan di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kilometer 14. Hendrikus menyebut kondisi di sekitar TPA cukup rawan karena titik api berada di sejumlah sisi kawasan tersebut.

“Di Kilometer 14, kiri, kanan, belakang sudah api semua,” ungkapnya.

Sumur bor lainnya dibangun di kawasan Tabat Kalsa. Sementara di Petuk Ketimpun, pembangunan dilakukan oleh personel TNI dengan material yang disiapkan oleh BPBD.

Hendrikus menambahkan, kebutuhan sumber air menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat operasi pemadaman, terutama ketika kebakaran terjadi jauh dari sumber air yang mudah dijangkau.

BPBD saat ini masih melakukan pendataan untuk menginventarisasi seluruh sumur bor yang dibangun oleh berbagai unsur selama penanganan karhutla. (ifa/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *