PALANGKA RAYA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palangka Raya telah mencapai 9.324 kasus sejak Juni hingga September 2026.
Lonjakan kasus paling terlihat pada Agustus, saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kualitas udara.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya, Riduan, mengatakan ribuan kasus tersebut tercatat sepanjang periode Juni hingga September. Menurutnya, peningkatan paling signifikan terjadi pada Agustus.
“Dari bulan Juni sampai dengan September itu ada 9.324 kasus,” kata Riduan.
Riduan menyebut kasus ISPA tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu. Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes, kasus tersebut tersebar pada bayi dan balita, kelompok dewasa, hingga lansia.
“Jadi kita itu ada tiga kategori. Bayi dan balita itu kalau tidak salah 30 persen, kemudian dewasa ada 40 persen, kemudian lansia ada 30 persen,” ujarnya.
Komposisi tersebut menunjukkan paparan gangguan pernapasan terjadi cukup merata di berbagai kelompok usia. Bayi dan balita serta lansia masing-masing menyumbang sekitar 30 persen dari kasus, sementara kelompok dewasa sekitar 40 persen.
Riduan mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah kabut asap yang masih menyelimuti Palangka Raya akibat karhutla. Masyarakat diminta tetap menjaga kondisi tubuh dan mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.
Meski akumulasi kasus sejak Juni cukup tinggi, perkembangan kasus harian pada September justru menunjukkan penurunan.
Pada Minggu (20/9), tercatat 87 kasus ISPA. Angka tersebut turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 92 kasus dan dua hari sebelumnya sebanyak 83 kasus. “Jadi kasus ISPA saat ini itu turun,” katanya.
Menurut Riduan, penurunan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya kewaspadaan masyarakat terhadap kabut asap. Sebagian warga disebut memilih mengurangi aktivitas di luar rumah serta meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin.
Untuk awal bulan September hingga 20 September, Dinkes mencatat sekitar 2.076 kasus ISPA. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan Agustus yang mencapai 3.104 kasus.
Riduan menjelaskan, sebagian besar keluhan ISPA berupa batuk, pilek dan demam. Namun, kondisi dapat menjadi lebih berat apabila pasien memiliki penyakit penyerta, seperti asma.
“Kalau ada penyakit penyerta, biasanya ada asma, nah itu yang memperparah,” jelasnya.
Pasien dengan kondisi asma yang membutuhkan penanganan lebih lanjut biasanya dirujuk ke rumah sakit karena memerlukan perawatan selama beberapa hari.
Sementara itu, rumah oksigen yang disiapkan pemerintah dimanfaatkan bagi warga yang mengalami keluhan batuk, pilek maupun sesak akibat paparan partikel asap.
“Sesaknya hanya hirupan partikel asap ini. Jadi begitu diberikan oksigen, biasanya sesaknya kurang,” katanya.
Riduan memastikan hingga saat ini belum terdapat korban jiwa akibat dampak ISPA yang berkaitan dengan kondisi kabut asap tersebut. “Sampai hari ini tidak ada korban,” pungkasnya. (ifa/)












