Palangka Raya

Kabut Asap Masih Jadi Ancaman, Kasus ISPA Turun di Bulan September

58
×

Kabut Asap Masih Jadi Ancaman, Kasus ISPA Turun di Bulan September

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan.

PALANGKA RAYA – Kabut asap karhutla masih menyelimuti Palangka Raya, namun kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) justru menunjukkan tren menurun di dari bulan Agustus ke September.

Dinas Kesehatan mencatat 3.104 kasus di Bulan Agustus, namun terdapat penurunan pada bulan September yakni di angka 2.070 kasus. Untuk angka harian pada Minggu (20/9/2026) tercatat ada 87 kasus, turun dari 92 kasus sehari sebelumnya.

Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, angka harian tersebut juga lebih tinggi dibanding catatan yang sebelumnya mencapai 83 kasus. Meski demikian, secara keseluruhan kasus ISPA pada September masih lebih rendah dibanding Agustus.

“Untuk September sampai kemarin ada 2.076 kasus. Kalau Agustus ada 3.104 kasus, jadi ada penurunan,” kata Riduan saat dimintai keterangan, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, penurunan tersebut kemungkinan berkaitan dengan imbauan kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kabut asap.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, termasuk mengonsumsi vitamin, juga dinilai dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan.

Sejak periode karhutla Juni hingga September 2026, Dinkes mencatat total 9.324 kasus ISPA di Palangka Raya. Riduan menyebut peningkatan paling terlihat terjadi pada Agustus, ketika kasus mencapai 3.104 kasus.

Dari sisi kelompok usia, ISPA tidak hanya menyerang kelompok tertentu. Kasus tercatat pada bayi dan balita sekitar 30 persen, dewasa 40 persen, serta lansia sekitar 30 persen. Artinya, paparan gangguan pernapasan terjadi di berbagai kelompok usia.

Riduan menjelaskan, keluhan ISPA umumnya berupa batuk, pilek dan demam. Namun, kondisi dapat menjadi lebih berat apabila pasien memiliki penyakit penyerta seperti asma.

Pasien dengan kondisi tersebut biasanya dirujuk ke rumah sakit karena membutuhkan penanganan lebih lanjut selama dua hingga tiga hari.

Di tengah kabut asap, rumah oksigen juga dimanfaatkan warga yang mengalami batuk, pilek hingga sesak akibat menghirup partikel asap. Menurut Riduan, sesak akibat paparan asap umumnya dapat berkurang setelah mendapatkan oksigen.

Hingga Minggu (20/9/2026), Dinkes menyatakan belum mencatat korban akibat paparan kabut asap tersebut. (ter)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *