Pengalaman Siti Aida Merias Jenazah
Di balik pekerjaannya yang tidak biasa, Siti Aida juga menyimpan pengalaman yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatannya. Terutama ketika pekerjaan dilakukan menjelang tengah malam.
SALAH satunya terjadi saat ia bersama seorang perawat berada dalam kamar jenazah sebuah rumah sakit swasta di Palangka Raya. Pintu ruangan saat itu terkunci dan keluarga tidak diperbolehkan masuk.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan, “tak, tek, tak, tek”, seperti ada seseorang yang minta pintu dibuka.
Aida dan perawat sempat mengira ada orang di luar ruangan. Pintu pun dibuka. Namun lorong di depan kamar jenazah kosong. Tidak ada siapa-siapa. Setelah dicek, keluarga jenazah ternyata berada cukup jauh dari lokasi.
“Padahal pintunya jelas-jelas terkunci. Kami buka karena mendengar suara ketukan, ternyata tidak ada siapa-siapa,” jelasnya.
Pengalaman lain juga pernah datang dalam bentuk listrik yang tiba-tiba padam, suara petir sangat keras hingga perasaan seperti ada sesuatu yang melintas saat ia pulang setelah menyelesaikan pekerjaan.
Anehnya, pengalaman-pengalaman itu tidak membuat Aida memilih berhenti. Ia justru semakin percaya bahwa pekerjaannya harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghormatan.
Sebelum mulai memandikan atau merias, ia selalu menyampaikan permisi. Setelah selesai, ia juga meminta maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Bahkan sebelum meninggalkan ruangan, Aida memiliki kalimat yang selalu diucapkannya.
“Mungkin selama saya merias, sudah beribu-ribu maaf saya ucapkan sambil merias. Kalau ada yang janggal, saya selalu bilang, jangan ikuti kami,” katanya.
Kini Siti Aida tidak lagi bekerja sendirian. Kondisi tubuh yang mulai merasakan lelah setelah bertahun-tahun menerima panggilan dan kebiasaan lupa makan membuat adik kandungnya ikut membantu.
Meski begitu, sang adik memiliki batas tersendiri, terutama ketika harus menangani jenazah bayi karena tidak tega. Aida pun mengaku tidak selalu berbicara soal tarif. Ada keluarga yang datang dari kampung dan tidak memiliki cukup uang.
Dalam kondisi tertentu, ia tetap membantu karena baginya, wajah seseorang tetap pantas diperlakukan dengan baik, bahkan ketika pemiliknya sudah tidak bisa lagi memilih bagaimana ia ingin terlihat.
Dua puluh tahun lebih bergelut dengan kematian membuat Aida belajar banyak hal tentang hidup. Ia pernah dibayar mulai Rp700 ribu untuk merias satu jenazah, pernah pula bekerja tanpa berharap imbalan.
Satu wajah bisa selesai sekitar setengah jam, tetapi pengalaman yang dibawanya pulang jauh lebih panjang.
Dari ruang jenazah yang dingin, bau formalin, panggilan tengah malam hingga suara ketukan yang tak diketahui asalnya, Aida menemukan arti ikhlas dengan caranya sendiri.
“Ikhlas itu ternyata rasanya kayak senang. Ada kebahagiaan tersendiri kalau bisa bantu orang,” pungkasnya. (ter)












