Feature

Ada yang Kejang, Katingan Kuala Tetap Tampil dan Juara

65
×

Ada yang Kejang, Katingan Kuala Tetap Tampil dan Juara

Sebarkan artikel ini
JUARA NASIONAL : Plt Sekjen MPR Siti Fauziah (kerudung kuning) foto bersama peserta dari SMAN 2 Katingan Kuala yang berhasil sebagai juara pertama Grand Final LCC Empat Pilar MPR 2026 Tingkat Nasional, Rabu (26/8/2026). HUMAS MPR RI UNTUK RADAR KALTENG

Dari Grand Final LCC Empat Pilar MPR 2026 Tingkat Nasional

Tangis haru mengiringi kemenangan para siswa dan guru SMAN 2 Katingan Kuala, Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam Grand Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR 2026 Tingkat Nasional, sekolah menengah atas dari Kabupaten Katingan itu berhasil meraih juara pertama.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

SEKOLAH yang datang dari pelosok desa itu berhasil keluar sebagai juara pertama setelah melewati persaingan ketat di Gedung Nusantara 4, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/8/2026) lalu.

Namun di balik kemenangan tersebut tersimpan kisah yang membuat perjuangan tim Katingan Kuala terasa semakin istimewa.

Salah seorang anggota tim, Abdul Malik, justru tidak dapat ikut bertanding di babak final setelah mengalami kejang dan harus mendapatkan perawatan di Poliklinik MPR.

Ketika sembilan rekannya berjuang di arena, Malik hanya bisa menyaksikan dari tempat tidur. Ia mengikuti jalannya pertandingan melalui siaran langsung di YouTube.

Bagi Malik, momen itu menghadirkan perasaan campur aduk. Ia mengaku sempat merasa deg-degan dan bangga melihat teman-temannya bertanding. Namun di saat bersamaan, muncul rasa bersalah karena tidak dapat berada di tengah tim untuk ikut memperjuangkan kemenangan.

“Saya sempat deg-degan, bangga, dan merasa bersalah karena hanya bisa menyaksikan siaran langsung perjuangan teman-teman di final melalui YouTube dari tempat tidur di Poliklinik MPR,” ungkap Malik.

Meski tidak berada di arena, ia tetap memberikan dukungan dengan caranya sendiri. Sepanjang pertandingan, Malik terus mendoakan agar teman-temannya meraih hasil terbaik.

SMAN 2 Katingan Kuala mampu bangkit setelah pada dua sesi awal masih di posisi ketiga. Pada sesi rebutan, mereka perlahan mengumpulkan poin dan mengejar SMAN 8 Jakarta Selatan di posisi teratas.

Kesalahan yang dilakukan tim lawan turut membuka peluang bagi Katingan Kuala. Para peserta dari Kalteng itu tampil semakin tenang dan mampu memanfaatkan kesempatan menambah poin. Hingga lomba berakhir, SMAN 2 Katingan Kuala berhasil mengamankan posisi pertama.

SMAN 8 Jakarta Selatan berada di posisi kedua, SMAN 1 Tanjung Selor (Kalimantan Utara) menjadi juara ketiga. Sedangkan SMAN 2 Bogor (Jawa Barat) menempati posisi keempat.

Kemenangan tersebut diraih dengan kondisi tim yang tidak lengkap. Alih-alih menjadi penghambat, kondisi itu justru memacu sembilan peserta yang tersisa memberikan kemampuan terbaik.

Guru Pembimbing SMAN 2 Katingan Kuala Indah Fitriani mengaku, sempat khawatir kondisi tim setelah Malik tidak dapat bertanding.

Namun ia terus menguatkan mental anak didiknya. “Saya sampaikan kepada anak-anak, jangan menyerah meskipun jumlahnya tidak sama. Terus berjuang karena pada sesi rebutan, setiap orang bisa memberikan kontribusi besar untuk menang,” ujarnya.

Pesan tersebut terbukti. Satu per satu peserta memberikan kontribusi hingga akhirnya mereka berhasil membalikkan keadaan dan merebut gelar juara nasional.

Bagi Malik, perjuangan belum selesai ketika nama sekolahnya diumumkan sebagai pemenang. Setelah kondisinya membaik, ia berusaha hadir dalam penyerahan hadiah dengan menggunakan kursi roda.

Di tengah teman-temannya yang merayakan kemenangan, Malik terlihat emosional. Air matanya tak terbendung ketika menyaksikan sekolahnya menjadi juara pertama.

Ia mungkin tidak ikut menjawab pertanyaan di arena. Namun sejak terbaring di Poliklinik MPR hingga hadir dengan kursi roda di penyerahan hadiah, Malik tetap menjadi bagian dari perjalanan kemenangan tersebut.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada dokter dan paramedis Poliklinik MPR yang telah molong dirinya saat kejang. “Mereka telah bekerja dengan baik sehingga kondisi saya semakin membaik,” terangnya.

Bagi SMAN 2 Katingan Kuala, gelar juara nasional ini menjadi pencapaian yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Pada 2025, mereka juga berhasil mencapai tingkat nasional, tetapi gagal menjadi juara. Tahun ini, target mereka sebenarnya hanya ingin kembali tampil di babak final. Namun dari sekolah kecil di pelosok Kalimantan Tengah, mereka justru berhasil menaklukkan panggung nasional.

Dengan satu anggota yang terpaksa berjuang dari tempat tidur poliklinik dan sembilan lainnya yang bertahan di arena, SMAN 2 Katingan Kuala akhirnya pulang membawa gelar juara. Mereka datang dengan harapan bisa mencapai final. Mereka pulang sebagai juara nasional. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *