Kalimantan TengahPalangka Raya

Dishut Kalteng Ungkap 3.000-4.000 Sumur Bor, Kondisinya Belum Terdata

79
×

Dishut Kalteng Ungkap 3.000-4.000 Sumur Bor, Kondisinya Belum Terdata

Sebarkan artikel ini
Kepala Dishut Kalteng, Agustan Saining saat diwawancarai awak media.

PALANGKA RAYA – Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Tengah (Kalteng) memperkirakan terdapat sekitar 3.000-4.000 sumur bor yang tersebar di berbagai wilayah. Ironisnya, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa sumur yang masih berfungsi dan berapa yang sudah tidak operasional.

Kepala Dishut Kalteng, Agustan Saining, mengatakan sumur-sumur tersebut dibangun sejumlah pihak, di antaranya Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta instansi lainnya.

“Kalau berkisar 3.000 sampai 4.000-an ada sumur bor itu,” ujar Agustan, Kamis (20/8/26).

Agustan mengakui belum dilakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi ribuan sumur tersebut. Terlebih, data sumur bor yang sebelumnya dimiliki BRGM belum sepenuhnya diterima pemerintah daerah setelah lembaga tersebut dibubarkan.

“Belum melakukan pengecekan mana yang operasional, mana yang belum. Karena datanya masih kami minta di kawan-kawan eks-BRGM,” katanya.

Di tengah belum jelasnya kondisi ribuan sumur lama, Dishut Kalteng justru membangun 10 sumur bor baru secara swadaya tahun ini untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pembangunan sumur baru dilakukan karena sumber air di lapangan semakin terbatas. Sejumlah embung yang selama ini digunakan untuk pemadaman mulai mengering.

“Karena di lapangan kesulitan air maupun embung-embung itu kering rata-rata. Makanya kita bangun sumur bor,” jelasnya.

10 baru tersebut berada di antaranya di Tumpang Nusa, Kameloh, Kameloh Baru, dan Sampit. Agustan memastikan sumur tersebut dapat berfungsi.

Biaya pembangunan satu sumur bor diperkirakan sekitar Rp 2,5 juta, dengan kedalaman pengeboran mencapai 25-30 meter.

Dishut Kalteng selanjutnya akan memetakan kembali keberadaan sumur bor yang ada untuk menentukan titik yang masih bisa diperbaiki maupun yang perlu digali ulang.

Data ribuan sumur yang belum terverifikasi ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah, terutama di tengah ancaman karhutla dan semakin terbatasnya sumber air di lapangan. (ifa/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *