Utama

Detik-Detik Mencekam Kebakaran Mendawai I, Saksi Mulyadi Sempat Selamatkan Bayi dari Kepungan Api

753
×

Detik-Detik Mencekam Kebakaran Mendawai I, Saksi Mulyadi Sempat Selamatkan Bayi dari Kepungan Api

Sebarkan artikel ini
SAKSI KEBAKARAN : Mulyadi (44), penyewa barak nomor 1 sekaligus saksi kebakaran di Jalan Mendawai I, Selasa (11/8/26) sore. FOTO : IFA/RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Kebakaran hebat terjadi di Jalan Mendawai I, Selasa (11/8/26) sore. Api dengan cepat membesar dan mengurung rumah korban yang berada di barak nomor 2. Sejumlah anak dilaporkan menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Detik-detik kebakaran itu disaksikan Mulyadi (44), penyewa barak nomor 1 yang berada tepat di sekitar lokasi. Ia mengaku awalnya sama sekali tidak menyangka suara gaduh yang terdengar merupakan tanda kebakaran. “Saya kira ada perkelahian, perkelahian anak-anak saya kira,” ujar Mulyadi.

Saat keluar, ia justru mendapati seorang bayi sudah berada di luar rumah. Tanpa berpikir panjang, Mulyadi langsung mengangkat bayi tersebut.
“Ternyata ada bayi yang sudah keluar. Saya angkat bayi tersebut dan keadaannya panas,” katanya.

Barulah setelah itu Mulyadi menyadari api telah membesar. Kobaran api dengan cepat menjalar ke rumah korban yang diketahui berbahan kayu.

Di tengah situasi panik, Mulyadi melihat ibu korban kembali bergerak menuju ke dalam rumah. Ia menduga perempuan tersebut hendak menyelamatkan anak-anaknya yang masih tertinggal.

Namun, api sudah terlalu besar. Akses menuju bagian dalam rumah tertutup kobaran api sehingga Mulyadi tidak lagi mampu memberikan pertolongan.

“Saya tidak sempat lagi menolong karena sudah tidak ada jalan untuk mengakses ke dalam rumah tersebut yang penuh dengan kobaran api,” tuturnya.

Mulyadi menyebut, berdasarkan yang diketahuinya, terdapat empat anak di dalam rumah tersebut. Dua di antaranya yang tidak selamat diperkirakan berusia sekitar 4 dan 5 tahun.

Ia menduga sang ibu berusaha menyelamatkan anak berikutnya setelah seorang bayi berhasil keluar dari rumah.
“Dugaan saya ibu korban mau menyelamatkan anak selanjutnya. Karena saya memegang bayi yang sedang di luar itu, saya tidak melihat ibunya di mana,” ungkapnya.

Kondisi bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu membuat api begitu cepat melahap rumah tersebut.
“Rumah tersebut kayu semua, jadi api mudah melenyapkan semuanya,” katanya.

Yang membuat kejadian semakin memilukan, Mulyadi mengaku tidak sempat mendengar teriakan minta tolong dari dalam rumah. Ia hanya mendengar suara keributan sebelum api membesar.

“Saya pun bahkan tidak mendengar suara teriakan minta tolong. Yang saya dengar hanya suara keributan, karena begitu singkatnya kejadian tersebut,” ucapnya.

Mulyadi diketahui merupakan penyewa barak nomor 1, sedangkan keluarga korban menempati pintu atau barak nomor 2. Ibu korban sendiri diketahui memiliki usaha laundry yang berada di sekitar jembatan.

Kebakaran berlangsung begitu cepat. Dalam hitungan singkat, rumah kayu tersebut sudah dikepung kobaran api, membuat upaya penyelamatan dari luar nyaris mustahil dilakukan. (ifa/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *