Pencak Silat Mengantarkan Ari Lahmudin ke Panggung Nasional
Ketika teman-teman seusianya sibuk mengejar bola di lapangan, Ari Lahmudin justru mulai belajar berdiri tegap di atas matras pencak silat. Bukan karena itu olahraga favoritnya, melainkan karena satu alasan sederhana, ayahnya menginginkannya mencoba.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
KEPUTUSAN kecil yang diambil bertahun-tahun lalu itu kini menjadi awal perjalanan besar. Ari, pelajar kelas IX MTsN 2 Palangka Raya, berhasil meraih dua medali emas.
Pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dan akan mewakili daerahnya pada ajang nasional di Jakarta.
Semuanya berawal ketika Ari masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Saat itu, sepak bola adalah olahraga yang paling ia sukai. Hampir setiap ada waktu luang, ia lebih senang bermain bola bersama teman-temannya. Namun sang ayah, yang pernah belajar pencak silat, melihat potensi lain pada putranya.
Ari pun diminta mengikuti latihan di Perguruan Telabang Kalimantan.
“Kalau dulu saya minatnya sepak bola. Cuma orang tua nyuruhnya ke pencak silat, jadi ikut aja dulu karena bapak sempat belajar silat. Jadi awalnya memang dari orang tua. Tapi saya nggak merasa terpaksa. Ikut saja dulu, lama-lama menikmati juga,” kenangnya, Rabu (29/7/2026).
Tidak ada target besar saat itu. Orang tuanya hanya ingin Ari memiliki kegiatan yang positif sekaligus belajar disiplin. Dari latihan demi latihan, bocah yang awalnya sekadar mengikuti keinginan ayah perlahan mulai mencintai dunia pencak silat.
Setahun kemudian, ia mengikuti pertandingan pertamanya di Museum Balanga. Meski belum menjadi juara pertama, Ari berhasil meraih juara II. Pengalaman itu menjadi titik awal lahirnya semangat untuk terus berkembang.
Sejak saat itu, berbagai kejuaraan mulai diikutinya. Kemenangan datang bergantian dengan kekalahan. Namun setiap hasil selalu diterima sebagai bagian dari proses. “Kalau kalah, tetap berproses lagi, tetap semangat. Jadi kalau kalah jangan berhenti. Tetap latihan lagi, diperbaiki lagi apa yang kurang,” ujarnya.
Baca Juga : Lulusan Baru Belum Banyak Terserap Dunia Kerja
Di balik setiap pertandingan, keluarga menjadi tempat Ari kembali mengumpulkan semangat. Dukungan yang dahulu berupa ajakan untuk berlatih kini berubah menjadi dorongan agar ia terus konsisten mengejar prestasi.
Memasuki bangku MTs, tantangan Ari semakin besar. Jadwal sekolah harus berjalan beriringan dengan latihan rutin setiap malam.
Sepulang sekolah ia beristirahat sejenak sebelum kembali berangkat latihan pukul 18.00 WIB hingga 20.00 WIB. Tugas sekolah dikerjakan setelah latihan selesai. Pola hidup itu dijalaninya hampir setiap hari.
Kesulitan membagi waktu sempat dirasakan saat kelas VII. Namun berkat dukungan keluarga dan sekolah, ia mampu menyesuaikan diri hingga latihan maupun pendidikan tetap berjalan seimbang.
Usaha bertahun-tahun itu akhirnya membuahkan hasil manis. Pada O2SN tingkat Provinsi Kalteng, Ari tampil impresif dengan memborong dua medali emas sekaligus pada kategori seni tunggal dan fight.
Prestasi tersebut mengantarkannya menjadi wakil Kalteng pada O2SN tingkat nasional.
Kepala MTsN 2 Palangka Raya Rita Sukaesih menilai, keberhasilan Ari menjadi bukti bahwa dukungan dari lingkungan terdekat mampu mengembangkan potensi seorang anak.
Menurut dia, setiap peserta didik memiliki bakat yang berbeda, sehingga sekolah berkewajiban memberi ruang agar bakat tersebut berkembang, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
“Sebagai kepala madrasah saya sangat mendukung sekali semua kegiatan atau prestasi anak-anak. Dengan berhasilnya Ari ini ada dua medali emasnya. Selain membanggakan keluarganya, dia juga ikut membanggakan madrasah dan Kalteng,” katanya.
Kini perjalanan Ari belum berhenti. Dua medali emas bukanlah garis akhir, melainkan pintu menuju tantangan yang lebih besar di tingkat nasional.
Di sela kesibukan berlatih, ia juga mulai menyiapkan masa depan. Setelah lulus dari MTsN 2 Palangka Raya, Ari bercita-cita melanjutkan pendidikan ke SMA Taruna Nusantara di Magelang sebelum mewujudkan impiannya menjadi prajurit TNI.
Semua mimpi itu berakar dari keputusan sederhana yang pernah dibuat sang ayah bertahun-tahun lalu. Dari seorang anak yang awalnya hanya menurut ketika diajak berlatih, Ari tumbuh menjadi atlet muda yang membawa nama Kalteng ke panggung nasional.
Ia membuktikan bahwa terkadang, seorang anak belum mengetahui jalan terbaiknya.
Ada kalanya orang tua lebih dulu melihat potensi itu, lalu menuntunnya dengan sabar hingga akhirnya sang anak menemukan cintanya sendiri pada jalan yang dulu hanya ia ikuti karena sebuah kepercayaan. (ifa/ens)












