Dinkes Soroti Bahaya Terlambat Berobat dan Pengaruh Mitos
SAMPIT – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit diare. Terutama pada bayi dan balita. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat satu balita meninggal dunia akibat diare setelah terlambat mendapatkan penanganan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan, kasus diare tahun ini memang mengalami peningkatan meski belum tergolong signifikan. Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa.
“Untuk diare memang ada peningkatan walaupun tidak signifikan, tetapi tetap kami waspadai. Dibanding beberapa waktu lalu memang angkanya sedikit lebih tinggi,” kata Nugroho, Rabu (22/7/2026).
Korban meninggal merupakan seorang balita asal Kecamatan Mentaya Hulu. Peristiwa itu terjadi sebelum memasuki musim kemarau. Menurut Nugroho, keterlambatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan menjadi penyebab utama sehingga kondisi anak sudah mengalami dehidrasi berat saat mendapat pertolongan.
“Diare berkembang sangat cepat. Ketika tubuh sudah kehilangan banyak cairan, kondisinya bisa memburuk dalam waktu singkat. Bahkan setelah dipasang infus, pasien terkadang tidak dapat diselamatkan karena dehidrasinya sudah terlalu berat,” jelasnya.
Ia menerangkan, diare sebenarnya dapat menyerang siapa saja. Namun, bayi dan balita memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi fatal karena mereka belum mampu mengungkapkan keluhan yang dirasakan dan biasanya kehilangan nafsu makan ketika sakit.
“Semua kelompok usia bisa terkena diare, tetapi bayi dan balita jauh lebih rentan. Saat sakit mereka cenderung diam, tidak mau makan maupun minum, sehingga kehilangan cairan berlangsung lebih cepat,” ungkapnya.
Selain faktor medis, Dinkes juga menyoroti masih kuatnya pengaruh kepercayaan dan mitos di sebagian masyarakat yang menyebabkan pasien terlambat mendapatkan penanganan medis. Tidak sedikit keluarga yang lebih memilih melakukan pengobatan tradisional atau menunggu arahan orang yang dituakan sebelum membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit.
“Sebagian masyarakat memang sudah sadar pentingnya segera berobat. Namun masih ada yang mengikuti kebiasaan lama, seperti diobati secara tradisional atau menunggu saran orang tua terlebih dahulu. Kondisi inilah yang sering membuat penanganan menjadi terlambat,” ungkap Nugroho.
Salah satu anggapan yang masih ditemukan di masyarakat adalah keyakinan bahwa diare pada bayi merupakan tanda anak akan segera bisa berjalan sehingga dianggap sebagai kondisi yang wajar. Menurut Nugroho, pemahaman tersebut keliru dan dapat membahayakan keselamatan anak jika membuat keluarga menunda mencari pertolongan medis.
Karena itu, Dinkes Kotim mengimbau masyarakat untuk segera membawa anggota keluarga, khususnya bayi dan balita, ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami diare berulang, muntah, tidak mau minum, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Penanganan yang cepat dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mencegah komplikasi hingga kematian. (pri/ens)












