PALANGKA RAYA – Sebanyak 135 anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Program Sekolah Rakyat (SR) di Kota Palangka Raya. Jumlah tersebut masih sekitar separuh dari target 270 peserta didik yang ditetapkan pemerintah untuk tahun ajaran 2026/2027, sehingga proses penjangkauan calon siswa terus dilakukan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, hingga 13 Juli 2026 tim transisi daerah telah menjangkau 1.259 anak yang memenuhi kriteria calon peserta didik. Dari jumlah tersebut, 135 anak bersedia mengikuti pendidikan di SR yang menerapkan sistem berasrama.
“Peminat tersebut terdiri atas 54 siswa jenjang SD, 57 siswa jenjang SMP, dan 24 siswa jenjang SMA,” ujar Riduan saat menyampaikan laporan pada pembukaan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 di SR Jalan Tjilik Riwut Km 39, Palangka Raya, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, dari 135 calon peserta didik tersebut, 120 siswa dari Kota Palangka Raya, 15 lainnya dari luar daerah.
Penjangkauan akan terus dilakukan hingga target 270 peserta didik terpenuhi, masing-masing 90 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
“Masuk SR semuanya gratis, mulai dari sepatu, buku, seragam, hingga laptop disediakan. Makan dan minum tiga kali sehari juga ditanggung pemerintah. Program ini ditujukan untuk membantu keluarga miskin yang masuk kategori desil 1 dan desil 2,” katanya.
Riduan menjelaskan, pada tahun ajaran pertama SR menargetkan menerima 90 siswa untuk masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA. Untuk jenjang SMA, saat ini baru terdapat 24 peserta sehingga masih akan dilakukan penambahan hingga target terpenuhi. “Kalau SMA saat ini baru satu kelas karena baru 24 siswa. Mudah-mudahan ke depan bisa menjadi tiga kelas sesuai target 90 peserta didik,” katanya.
Ia menyebutkan tenaga pendidik direkrut oleh Kementerian Sosial. Setelah proses rekrutmen selesai, para guru akan ditempatkan di SR Palangka Raya. “Tenaga pendidik direkrut oleh Kementerian Sosial. Setelah itu diserahkan kepada kami sebagai pengguna manfaat, termasuk penggunaan gedung sekolah ini,” jelasnya.
Sementara itu, pelaksanaan MPLS berlangsung selama 19 hari, mulai 13 hingga 31 Juli 2026. Kegiatan tersebut dirancang untuk membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus kehidupan di asrama.
Menurut Riduan, MPLS dibagi empat fase. Yakni adaptasi dan penerimaan, pengenalan akademik dan jati diri, kesamaptaan serta penguatan karakter, hingga puncak dan penutupan. (ifa)












