Feature

Keliling Daerah, Hidup dari Musik Bambu

457
×

Keliling Daerah, Hidup dari Musik Bambu

Sebarkan artikel ini
MUSIK ANGKLUNG : Grup PMJK saat sedang memainkan musik angklung di arena CFD, Minggu (12/7/26). FOTO : IFA/RADAR KALTENG

Grup Musik Tradisional dari Semarang Mengais Rezeki di Palangka Raya

Pagi itu, suasana car free day (CFD) di Jalan Yos Sudarso, Kota Palangka Raya, dipenuhi warga yang berolahraga, bercengkerama, hingga berburu jajanan. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas akhir pekan itu, terdengar alunan musik yang berbeda dari biasanya.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

BUKAN dentingan gitar atau irama keyboard yang mengalun, melainkan suara bambu yang berpadu dengan tabuhan beduk. Musik tradisional itu mengundang rasa penasaran. Banyak pengunjung menghentikan langkah, mengabadikan penampilan para pemain. Bahkan beberapa anak kecil mendekat untuk melihat langsung bagaimana alat musik tersebut dimainkan.

Di balik alunan nada itu berdiri lima orang seniman jalanan yang tergabung dalam Grup PMJK. Pemilik angklung majik adalah kelompok musik angklung seni budaya asal Semarang, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua dekade, mereka menjadikan musik tradisional sebagai teman perjalanan sekaligus sumber penghidupan.

Salah satu personelnya, Rosikin Setiawan, mengatakan kelompoknya telah berdiri sejak 2002. Sejak itu, mereka terus berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, memperkenalkan musik angklung kepada masyarakat. “Sudah lama, dari tahun 2002,” ujar Rosikin.

Palangka Raya menjadi salah satu kota yang kini mereka singgahi. Sebelum tiba di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, mereka lebih dahulu menghibur masyarakat di Banjarmasin, Minggu (12/7/2026).

Penampilan di CFD kali ini menjadi pengalaman pertama Grup PMJK tampil di ruang publik Kota Cantik.

Rosikin mengaku tidak memiliki alasan khusus memilih Palangka Raya selain keinginan untuk terus menjelajahi daerah baru sekaligus mencari penghasilan. “Ya mau jalan-jalan juga sih,” katanya sambil tersenyum.

Meski baru pertama kali tampil, kesan yang diperoleh cukup positif. Menurutnya, masyarakat Palangka Raya sangat terbuka terhadap kehadiran para seniman jalanan. “Orangnya ramah. Cari rezeki di sini juga alhamdulillah lumayan,” tuturnya.

Bagi Grup PMJK, kehidupan di jalan bukan sesuatu yang asing. Mereka terbiasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain setiap hari.

Pagi hari dimulai dengan berkeliling ke pasar-pasar tradisional. Dalam sehari, mereka bisa tampil di tiga pasar berbeda. Ketika sore menjelang, perjalanan berlanjut ke lokasi-lokasi yang ramai menjadi tempat masyarakat berkumpul. “Kalau pagi biasanya tiga pasar. Kalau sore satu tempat yang ramai orang nongkrong,” jelas Rosikin.

Tidak ada jadwal tetap. Mereka mengikuti keramaian dan berharap setiap tempat menghadirkan penonton baru yang bersedia menikmati musik tradisional.

Yang menarik, lagu-lagu yang dimainkan tidak terbatas pada musik tradisional. Grup PMJK justru menyesuaikan dengan permintaan masyarakat.

Siapa pun dapat meminta lagu favoritnya untuk dimainkan menggunakan alat musik bambu. Kemampuan beradaptasi itu membuat penampilan mereka terasa akrab bagi semua kalangan. “Kalau ada yang request lagu juga bisa. Lagu apa saja kami usahakan bisa dimainkan,” ujarnya.

Karena itu pula, selain bermain di ruang publik, Grup PMJK juga kerap menerima undangan tampil dalam berbagai acara. Mulai dari pesta pernikahan, khitanan, hingga pawai dan karnaval pernah mereka isi dengan alunan musik angklung.

Rosikin menjelaskan bahwa musik yang mereka bawakan berasal dari alat musik berbahan dasar bambu.

Dalam formasi lengkap, sebenarnya terdapat tujuh jenis alat musik. Namun karena mobilitas mereka sangat tinggi dan harus berpindah-pindah kota, tidak semua alat dapat dibawa. “Kalau yang lengkap ada tujuh alat. Tapi yang besar-besar susah dibawa kalau keliling,” jelasnya.

Saat tampil di CFD Palangka Raya, mereka hanya membawa tiga alat utama, yakni angklung, ripung, dan beduk. Meski sederhana, perpaduan ketiganya mampu menghasilkan harmoni yang khas dan menarik perhatian masyarakat.

Banyak orang mungkin menganggap pertunjukan mereka hanya sekadar hiburan jalanan. Namun bagi Rosikin, setiap nada yang dimainkan memiliki makna lebih dalam.

Ia ingin menunjukkan bahwa musik tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Di era ketika musik digital dapat dinikmati hanya melalui telepon genggam, bunyi bambu tetap mampu menghadirkan kehangatan yang tidak tergantikan.

Perjalanan panjang dari Semarang hingga Kalimantan juga bukan tanpa tantangan. Hidup berpindah-pindah membuat penghasilan mereka bergantung pada kemurahan hati masyarakat.

Dalam sehari, Grup PMJK rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp500 ribu. Uang tersebut kemudian dibagi rata kepada lima anggota kelompok. “Sehari sekitar lima ratus ribu. Dibagi lima orang, jadi masing-masing sekitar seratus ribu,” ungkap Rosikin.

Jumlah itu memang jauh dari kata besar. Namun bagi mereka, cukup untuk melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya.

Saat ini, Grup PMJK belum memiliki jadwal pasti setelah berada di Palangka Raya. Untuk sementara, mereka masih akan berkeliling menghibur masyarakat di pasar-pasar dan titik keramaian di sekitar kota.

Selama masih ada masyarakat yang mau berhenti sejenak mendengarkan alunan musik bambu, Rosikin dan rekan-rekannya akan terus memainkan nada-nada tradisional yang telah menemani perjalanan hidup mereka selama lebih dari 20 tahun. Bagi masyarakat kota Cantik yang ingin menggunakan jasa angklung PMJK bisa mehubungi kontak +62 838-5190-3682

Di tengah derasnya modernisasi, Grup PMJK membuktikan bahwa warisan budaya tidak harus selalu hadir di panggung besar. Di sudut pasar, di pinggir jalan, atau di tengah keramaian Car Free Day, musik angklung tetap mampu menyatukan orang-orang, menghadirkan senyum, dan mengingatkan bahwa kekayaan budaya Indonesia masih hidup berkat mereka yang setia menjaganya, satu nada bambu dalam setiap perjalanan. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *